Setelah lama tidak menulis karena liburan lebaran, alangkah baiknya blog ini kembali diisi biar tidak mirip kuburan yang hanya dikunjungi pada saat-saat tertentu saja. Tapi apa yang akan ditulis kali ini? ada tawaran? hahaha, baiklah sebelum anda menjawab saya akan coba menulis tentang lingkungan hidup untuk kali ini.

Kapal kargo yang memuat LNG untuk di exsport ke Jepang dan Korea, foto oleh: Fadhlul Fahmi

Banda Aceh sebagai ibukota provinsi Aceh terletak di antara hamparan luas samudra Hindia dan Selat Malaka yang super sibuk oleh lalu lintas laut itu benar-benar kota yang damai untuk ditinggalin, itu menurut saya yang sebagian besar hidup saya habiskan di kota yang dimasa lalu di kenal dengan kota para raja (Koetaradja). Panas….. itu kata yang tepat saat ini untuk menggambarkan suhu kota Banda Aceh terkini, namun saya baru tersadar ternyata tidak hanya Banda Aceh yang super panas tapi daerah-daerah lain tidak kalah panasnya.

Saat lebaran tempo hari saya sempat berkunjung ketempat Abang saya yang letaknya berdekatan dengan lokasi exspolarasi gas alam Point A ExxonMobile Aceh. Sejak tahun 1974 exspolarasi besar-besaran telah terjadi disana semenjak ditemukan cadangan gas yang secara ekonimi menguntungkan itu. Perusahaan asal Amerika Serikat tersebut menjadi kapitalis yang menyedot kekayaan alam Aceh dan hasilnya saya tidak tahu dikemanakan, cuba lihat kondisi masyarakat sekeliling perusahaan raksasa tersebut.

Point A ExxonMobile Kilang Aceh

Tapi sudahlah, saya sedang tidak membahas kapitalis disini, saya ingin menulis tentang dampak lingkungan dari exspolarasi gas tersebut saja. Kembali saya katakan PANAS, PANAS, PANAS dan PANAS. Suhu disekeitar lokasi ExxonMobile melebihi panasnya kota Banda Aceh, bayangkan seandainya ExxonMobile tidak ada disana, hutan lebat tentunya akan tumbuh tanpa perlu takut untuk dibabat. Mungkin dalam hati kecil para pohon berkata “untuk apa aku tumbuh besar karena sebentar lagi juga akan ditebang agar pesawat yang mendarat di bandara kecil itu tidak terganggu”.

Lokasi proyek tersebut sebenarnya terletak diperbukitan dengan hamparan luas sawah disekelilingnya dan rumah-rumah penduduk miskin yang akan menerima akibat dari kerusakan ekosistem setelah perusahaan itu minggat saat cadangan gas tidak tersisa lagi untuk disedot.

Tempat saya dilahirkan, Kec. Gandapura, Bireuen yang berlokasi 20 KM dari kilang Arun LNG. Co. sebagai perusahaan pengolah gas menjadi LNG (Arun Natural Gas Liquefaction) dan siap untuk diexsport, bila ada kapal dari Jepang atau Korea merapat untuk memuat LNG dalam 5 tangki raksasa yang sering disebut dengan 1 kargo, langit akan kelihatan merah seperti bara api yang dikipas (berkedip-kedip), pada saat saya masih kecil saya sering diberitahu kedua orang tua saya kalau ada kapal makanya langit seperti itu. Saya hanya bisa melihat dari kejahuan jadi jangan tanya ke saya berapa isi setiap tangki raksasa itu dan harga jualnya, ok.

Dikampung saya yang letaknya sekita 50 KM dari Point A tersebut panasnya juga tidak beda, saya tidak tahu ini akibat dari exspolarasi tersebut atau pengaruh pemanasan global. Tapi yang saya tahu seandainya tidak ada exspolarasi yang tidak banyak membawa manfaat bagi masyarakat sekitar maka pohon-pohon disana masih bersenda gurau sesamanya disana. hahaha Tidak membawa manfaat bagi masyarat sekitar? Hal itu sulit diukur dengan indikator tertentu, namun sampai saat ini masih ada permasalahan dengan pembebasan tanah, Oh ………. tidak sudah beroperasi selama bertahun-tahun dengan keuntungan sangat besar masih bermasalah dengan tanah rakyat, sungguh zalim.

Coba kita bandingkan komplek perumahan P.T. Arun LNG dengan rumah-rumah penduduk sekitar, sangat kontras perbedaannya, perumahan karyawan Arun dilengkapi dengan sarana kolam renang, lapangan golf, taman, listrik yang cukup tanpa ada pemadaman bergilir, telpon dan internet yang katanya gratis….tis…tis dan fasilitas lainnya sedangkan rumah gubuk disekeliling masih beratap rumbia dan lantai tanah dan penerangan seadanya, apa lagi ketersedian internet, jauh panggang dari api. Beberapa perusahaan lain disekitar yang hadir karena adanya exspolerasi gas tersebut juga kini hidup segan mati tak mau karena ketersediaan gas yang menipis dan ironisnya mereka lebih mementingkan pasokan untuk luar negeri daripada untuk perusahaan pupuk yang bisa membantu petani setempat dengan subsidi dari pemerintah dengan alasan sudah terikat kontrak.

Dari panasnya suhu kita coba lihat laut saat ini, wo…. sungguh tidak enak dipandang mata bila air laut sering menguning, air laut itu seharusnya biru seperti kata orang “laut biru”, tapi apa dikata limbah dari perusahaan dan pengaruh panas membuat plangton enggan berkembang biak yang berakibat pada hasil tangkapan nelayan menurun drastis. Ini adalah akibat dari perampasan sumber daya alam secara keji oleh perusahaan asing.

Akhirnya tak ada yang bisa kita lakukan selain tetap menjaga alam ini tetap aman dan nyaman untuk didiami dengan ikut menjaganya, cara paling mudah adalah menanam pohon diperkarangan rumah, mengurangi penggunaan energi fosil dengan membiasakan diri memakai kendaraan umum. Mari jaga lingkungan kita tetap dingin, sebelum suhu panas akan mencapai titik batas dimana manusia sanggup menahanya.🙂