Gunung berapi aktif yang terletak di Jawa Barat menjadi tempat rekreasi alam yang mempesona banyak orang untuk berkunjung, disamping bau belerang dan kawahnya yang masih mengeluarkan asap legenda gunung Tangkuban Perahu sendiri banyak memikat para turis untuk mengunjunginnya.

Konon katanya gunung Tangkuban Perahu menyerupai kapal terbalik dan masih menurut legenda Parahyangan gunung ini memang terbentuk dari perahu yang terbalik. Mungkin kita pernah mendengar cerita legenda sangkuriang, nah asal usul gunung ini dikaitkan dengan cerita rakyat tersebut. Terlepas dari cerita rakyat tersebut untuk pertama kali saya merasakan bau belerang dari gunung berapi. hehe

Perjalanan panjang dari Banda Aceh menuju kota dingin Bandung saya tempuh melalu perjalanan udara dari Sultan Iskandar Muda Airport (BTJ) menuju Soekarno-Hatta International Airport (CGK) yang terlebih dahulu transit di Bandara Polonia Internasional (MES) selama 30 menit. Setelah sampai di Jakarta perjalan bisa lanjutkan ke Bandung dengan 2 pilihan alternatif yaitu menggunakan kereta api (KA) atau jasa bus (travel) yang langsung dari bandara menuju kota Bandung.

Bila anda menggunakan kereta api dari pintu kedatangan domestik bisa langsung menuju ruang tunggu Damri yang ada didepan bandara lalu naik Damri jurusan stasion Gambir dengan ongkos Rp. 20.000,-. Di statuion Gambir beli tiket kereta Parahyangan dengan harga Rp. 65.000,- dan sampai di Bandung bila anda pertama kali ke Bandung dan merupakan orang Aceh maka akan sangat dekat dengan Asrama Mahasiswa Aceh dan anda mungkin bisa menginap disana atau bertanya-tanya kepada meraka, pasti mereka akan membantu.

Asrama Mahasiswa Aceh Wisma Teuku Umar (AMA-WTU) sendiri terletak di kawasan Cecendo berseberangan dengan pendopo Gubernur Jawa Barat. Dari stations kereta api terletak kira-kira 100 meter, bila anda ingin berjalan kaki sangat mudah menemukannya, dari depan stasion KA menyeberang jalan lalu menuju kearah kanan (kanan bila anda bediri didepan station KA) dan sampai ditukangan anda belok kiri tanpa perlu menyebrang, kira-kira 50 meter dari situ AMA-WTU terletak dan ada famlet nama.

Kembali ke Tankubang Perahu, tiket masuk perorang berkisar 15.000,- dengan pengelolaan yang lumayan bagus saya rasa bukalah harga yang mahal. Disepenjang kawah sendiri terdapat trac pejalan kaki yang bisa mengelilinginya dan penjual souvenir tentunya. Masyarakat yang ramah membuat kita merasa tidak terasing namun bila anda membeli sesuatu tawarlah dengan harga setengah lebih dari harga yang ditawarkan, misal sebuah topi dihargai Rp. 20.000, maka tawarlah sekitar Rp. 7000, intinya pandai-pandailah anda menawarnya.

Kawah Tangkuban Perahu sendiri sampai saat ini masih mengeluarkan asap dan bau belerang yang menyengat, sungguh asing bagi hidung saya yang baru petama kali berkunjung kesana. Oh ya perjalan dari Bandung ke gunung Tangkuban Perahu sendiri membutuhkan waktu sekitar 1 jam kalau tidak macet. Untuk mencapai kesana sepertinya angkutan umum tidak ada, namun anda bisa bertanya-tanya bagaimana menuju kesana karena saya tidak berpengalaman menggunakan angkutan umum. Saya sendiri ditemani teman saat kesana menggunakan kendaraannya.

Terima kasih buat sambalado.blogspot.com yang sudah menjadi teman dalam tour ini. hehehe

[nggallery id=5]