Sumber foto: hinamagazine.com

Meugang dalam tradisi masyarakat Aceh adalah meyembelih beratus bahkan ribuan ribu ekor lembu, kambing atau karbau bahkan ayam dan bebek dikorbankan. Tradisi turun temurun ini dilaksanakan 3 kali setahun pada awal Ramadhan, Indul Fitri dan Idul Adha. Tradisi ini dilakukan satu hari menjelang hari menyambut Ramdhan dan perayaan Idul Fitri serta Idul Adha.

Ada anggapan menarik dalam tradisi ini dimana apabila seorang manantu tidak membawa pulang daging meugang kerumah mertua maka menantu tersebut dianggap lemah dan sang pemuda malang tersebut akan merasa sangat malu. Namun hal ini hanya berlaku apabila sang menantu masih menetap di rumah mertua, akan lain halnya apabila sudah memiliki rumah sendiri, membawa pulang daging meugang bukanlah suatu kewajiban yang akan memalukan bila tidak dilaksanakan.Tradisi turun temurun ini tidak ada yang tahu pasti kapan mulai dilaksanakan namun tujuan dari tradisi ini pada dasarnya disebabkan oleh anggapan daging adalah makanan yang mahal dan tidak menjadi lauk keseharian. Dengan anggapan tersebut maka meugang dilaksanakan 3 tahun sekali dengan tujuan semiskin apapun masyarakatnya maka setiap 3 kali setahun maka masyarakat akan menikmati daging tidak peduli mereka memiliki uang atau tidak.

Celakanya harga daging pada saat meugang akan lebih mahal daripada harga pada hari-hari biasa, hal ini tentunya bertolak belakang dengan keinginan sebagian masyarakat miskin yang ingin merasakan daging meugang, namun apabila ada masyarakat yang memang secara ekonomi tidak sanggup membeli daging maka mereka tidak perlu khawatir tidak akan makan daging, karena pasti tetangga atau saudaranya akan mengirimkan daging untuknya walaupun kadang kala bukan daging mentah tapi yang sudah dimasak.

Disini rasa sosial dalam masyarakat Aceh dipertunjukkan, walau kita sudah sangat sibuk sehingga tidak lagi mengenal dengan tetangga sekurang-kurang dalam setahun ada 3 kali waktu yang mengingatkan kita untuk saling berbagi dan peka terhadap lingkungan. Semoga tradisi ini terus berlangsung dan nilai-nilai sosial yang telah ditanamkan oleh orang tua kita tidak luput dimakan perubahan jaman yang sangat kejam ini.