Degan sepeda motornya pak Amat setiap hari pergi mengajar disekolah. Kesederhanaa  dan wibawa seorang suri tauladan terlihat jelas dari tingkah lakunya. Tak ada yang istimewa dari seorang guru dengan gaji pas-pasan selain ilmu pengetahuan yang ditularkan kepada generasi berikutnya.

Dengan pengahsilan pas-pasan pak Amat membesarkan 2 orang putra dan 1 orang putri dari hasil pernikahanya 20 tahun silam. Tinggal dirumah sederhana dengan perabot juga sederhana, tak ada peti sejuk apa lagi pendingin udara.

Di sore hari pak Amat terkadang menjadi tukang ojek untuk menutupi biaya hidup yang semakin lama semakin besar akibat dari sang buah hati yang pertama saat ini sudah memasuki masa perkuliahan. Dengan bangganya Pak Amat bercerita kepada teman-temanya kalau anaknya sekarang sedang menuntut ilmu di salah satu  universitas bergengsi di ibukota provinsi dengan julukan Serambi Makkah itu.
Suatu hari lewat bit-bit digital yang terpancar dari BTS salah satu operator berwarna merah dia berbicara dengan anaknya di Banda Aceh. Lewat perbincangan singkat namun penuh pengharapan pak Amat dibebani pikiran yang tidak kepalang, dia harus segera mencari uang secepatnya untuk membelikan satu perangkat laptop buat Dedi anak pertamanya yang sangat membutuhkannya alat tersebut guna memperlancar proses perkulihannya.

Dedi memberitahukanya ayahnya kalau tanpa laptop maka perkuliahan akan terkendala yang berakibat pada terlambatnya selesai atau bahkan dikeluarkan dari kampus karena waktu yang telah habis. Bagaikan dipukul palu godam  detak jantung pak Amat saat mendengarkan “dikeluarkan dari kampus”. Yang ada dibenak pak Amat saat itu seandainya putra pertamanya tidak bisa menyelesaikan kuliah, sirna sudah harapan untuk bersanding disamping putranya dengan baju toga yang mewah itu.

Pikiran pak Amat buntu seketika, yang diingatnya hanya mencari kredit lunak ke bank, namun apa lacur SK kepegawaiannya sudah 2 tahun mengendap di bank saat membeli motor dulu. Tak ada ya  ide lain, hal ini harus  dibicarakan dengan sang istri tercinta untuk menemukan racikan solusi yang cepat dan tepat sebelum nasi menjadi bubur.

Ibu Fatimah yang sehari-hari hanya menjadi ibu rumah tangga tanpa bekerja sedikit lebih tenang dengan memeberikan solusi untuk menjual sawah namun pertimbangan lain kalau sawah dijual maka dari mana beras untuk sehari-hari, lalu ditawarkan menjual sepeda motor satu-satunya yang dipergunakan untuk mengajar dan menarik ojek, namun apa Amat harus bersepeda ke sekeloah dan tidak ada lagi penghasilan tambahan.

Akhirnya tak ada solusi lain selain menjual sepeda motot segera, di paggilnya agen jual beli motor bekas, transaksi berakhir dengan berpindah tangannya sepeda motor beserta surat-suratnya dengan uang cash sebesar delapa juta rupiah.

“Uang akan bapak kirimkan besok sebesar tujuh juta rupiah untuk kamu belikan laptop, belajar yang rajin jangan sia-siakan harapan ayahmu nak, ayah menyanyangi mu”
Dua hari berselang dia mendapatkan kabar kalau anaknya sekarang sudah memiliki laptop dan dipergunakan sebagaimana mestinya untuk keperluan perkulihaan.  Betapa bangganya sang ayah, sepeda yang didayung terasa menaiki jet pribadi saat membayangkan anaknya memencet tut-tut keyboard saat menyelesaikan tugas kuliahnya bahka skripsi kelak.

Minggu pertama Dedi masih beradaptasi dengan barang baru tersebut dengan mecoba-coba memutar musik, mengetik, mengedit foto-foto temannya dan aktifitas berkomputer tanpa koneksi internet. Namun memasuki minggu kedua dengan tas di punggu Dedi kini mulai membawa-bawa laptop kewarung kopi, dan memulai aktifitas berselancar diinternet dengan layanan koneksi nirkabel (wifi) gratis dari warung kopi yang tumbuh bagaikan jamur dimusim hujan.

Awalnya hanya mecari bahan kuliah dan memperbaharui status di situs jejaring social, namun tak lama Dedi pun kini mulai memaikan permainan yang diberikan percuma oleh situs jejaring social tersebut.

Sejak memiliki laptop sebulan yang lalu Dedi sudah jarang berada diruang perkuliahan, kini dia lebih banyak menghabsikan waktu bersama teman-teman lainya di warung kopi bahkan untuk kembali ke kost pun hanya sekadar untuk mandi dan menukar pakaian.

Waktu terus berjalan, tanpa disadari hari-hari perkuliahan terus berjalan tanpa kehadiran Dedi dir uang kelas karena tertidur dikost saban pagi akibat bergadang semalaman untuk bermain poker. Dari siang hari sampai larut malam, bahkan sampai pagi dedi menghabiskan waktunya untuk bermain berbagai permainan di situs jejaring social yang lain trend saat ini.

Pada akhirnya dia tersadar begitu banyak hasil unjian akhir semester dengan nilai D dan E, namun apa lacur waktu untuk memperbaikinya sudah tidak memungkikan, laptop yang seharusnya membantu mempercepat proses perkuliahanya kini malam memutuskan harapan orang tuanya untuk bersanding disampingnya saat mengugunakan pakaian kebesaran yang bernama toga itu.

*. Untuk generasi muda Aceh yang sedang kuliah, terinspirasi dari warung kopi.