Source Foto: cahayadunia.multiply.com

Ketika lebaran tiba baik itu Idul Fitri maupun Idul Adha suara tup tup tup tup sering terdengar dirumah panggung yang beratap rumbia yang konon katanya memiliki teknologi tersendiri pada desain atapanya. Dentuman tup tup tup bukanlah suara salak senjata, tapi suara dari lesung bertubrukan dengan alu yang diayunkan oleh sekolompok wanita. Alat penumpuk tersebut dalam masyarakat Aceh dekenal dengan “jeungki”.

Era keperkasaan jeungki kini tergusur oleh kecanggihan teknologi mesin, suara alunan jeungki yang beraturan itu kini sudah jarang terdengar seiring waktu diguras modernisasi. Alat tumbuk tradisional itu terbuat dari kayu pilihan yang kuat, dan batu yang dibuat sedemikian rupa sehingga berbentuk seperti mangkuk. Teknologi era penjajahan ini tidak menggunan energi fosil sehingga ramah lingkungan dan membuat penggunanya sehat.

Cara kerja alat ini digerakkan dengan ujung kaki yang dihentak, titik tumpang lebih ke ujung pengungkit sehingga memberikan pukulan yang lebih keras, di ujung pengungkit dipasang suatu kerangka terdiri atas dua bagian tegak lurus yang dihubungkan oleh kayu as (penggerak) harizontal sepanjang minimal empat meter sehingga jeungki naik dan turun, diujung sisi yang lain tempat dipasangkan alu (alèe) sepanjang kira-kira 50 cm untuk menumbuk pada lesung. Ada tiga komponen utama sebuah jeungki yaitu; jeungki, alu dan lesung (lusông).

Alat ini biasanya terbuat dari kayu khusus yang berukuran berat, dikarenakan alat ini membutuhkan daya pukulan yang keras pada alunya untuk bisa memecahkan beras untuk dijadikan tepung atau atau menghancurkan butiran padi agar menjadi gabah. Oleh karena itu gagang utama jeungki biasanya terbuat dari kayu merbau (meureubo), karena kayu ini lebih berat bobotnya daripada kayu biasa. Tetapi ada juga jeungki yang terbuat dari kayu yang bobotnya tidak terlalu berat, seperti kayu jati, jengki semacam ini biasanya digunakan untuk menumbuk padi agar menjadi gabah, bukan untuk menumbuk beras agar menjadi tepung.

Pada proses kerja alat ini juga diperlukan keahlian khusus, terutama orang yang bertugas di bagian lesung, karena bahan yang ditumbuk di dalam lesung diatur secara manual dengan tangan agar tumbukan tidak keluar dari lesung. Biasanya alat ini dioperasikan oleh kaum ibu.

Namun budaya berjalan seiring dengan kemajuan jaman, jeungki ini yang dulu merupakan bagian kehidupan sehari-hari, terutama di daerah-daerah pedalaman (gampông) mulai tersingkir oleh kemajuan teknologi, masyarakat lebih memilih untuk menumbuk padinya di kilang padi, menumbuk beras untuk menjadi tepung dengan alat-alat modern (alat giling).

Akan tetapi sedikit banyaknya jeungki ini masih terdapat di kampung-kampung, walaupun ada yang tidak digunakan lagi, dan di kota-kota besar sebagai barang hiasan masyarakat kelas atas dan para kolektor benda-benda sejarah. Tak ada lagi yang indah dari alat manual ini kecuali kenangan, mungkin 10 tahun ke depan alat ini tinggal nama, satu bagian budaya hilang bersama arus kemajuan peradaban.

Diadopsi dari tulisan peserta pelatihan menulis “Ayo, Menuliskan Aceh di Internet”