Alkisah disebuah negeri belantara luas yang aman dan damai hiduplah seorang pemuda sombong dan angkuh. Negeri nan luas dengan hasil alam melimpah, rakyaknya makmur dibawah kepemimpinan raja yang adil dan bijak. Kesejahteraan rakyatnya membuat sebagian penduduk bisa melampiaskan hobinya setiap saat diinginkan.
Pemuda kaya raya dari keluarga tuan tanah menguasai area perkebunan cengkeh cukup luas memiliki hobi berburu dihutan yang dihuni oleh bermacam-macam spesies dan family  belantara yang menggunakan bahasa beragan dan unik untuk berkomunikasi seperti “aummmm”, “cit…cit”, “cut…cut” dan lainya.

Disuatu pagi yang cerah dimana para penduduk yang pekerja keras dan pantang menyerah baru mulai menjalankan aktifitasnya, berangkatlah seorang diri sipemuda yang diberi nama oleh orang tuanya Amad untuk berburu kehutan yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Berjam-jam lamanya perjalan ditempuh dengan berjalan kaki untuk bisa memasuki hutan belantara sebagai tempat tujuan berburu si Amad.

Lelah dalam perjalan membuat Amad berhenti sejenak sambil menikmati bekal yang dibawa dibawah rimbunan pohon mimba (Azadirachta indica), tak lama Amad kembali bertenaga dan bersemangat untuk melanjutkan perjalanan dan melakukan perburuan terhadap hewan apa saja yang ada dalam rimba raya.

Salak senjata dari moncong Browning Belgium Diana Grade memecahkan keheningan hutan belantara dan mengejutkan monyet-monyet yang sedang bergelantungan. Target tembak si Amad adalah seokor burung barau-barau (Pycnonotus zeylanicus ), namun sayang bidikan Amat meleset. Amat melanjutkan perjalanannya kedalam hutan belantara semakin jauh kedalam dengan habitat yang tinggal didalamnya semakin banyak jenis dan jumlahnya.

Siraja rimba yang lagi tidur terbangun oleh suara gemuruh gerombolan rusa yang berlari menghindar dari timah panas yang dimuntahkan  Browning Belgium Diana Grade milik Amad. Raja rimba bukannya bernafsu untuk mengejar rusa-rusa tersebut karena memang dia sedang kekenyangan habis menyantap babi hutan tapi marah karena tidurnya diganggu. Dilihatnya si Amad sedang membidik rusa-rusa yang lari tunggang langgang, Raja rimba pun mengatur kuda-kuda untuk menerkan Amad, tapi Amad masih beruntung sempat melihat harimau tersebut dan menghindar. Sambil berlari Amad hamburkan peluru yang terbatas untuk menembak raja rimba, celakanya tak sekalipun tembakan Amad mengenai sasaran yang ada membangunkan harimau-harimau lain.

Pohon rasamala (Altingia excelsa Noronha)menjadi tumpuan Amad sebagai tempat berlindung, dipanjatnya pohon tersebut sampai keatas, namun sayang senjata amat tertinggal dibawah. Harimau-harimau lain ikut berkumpul untuk mengejar Amat, namun walau diberi julukan si raja rimba, harimau tetap memiliki keterbatasan tidak bisa memanjat pohon, Amad selamat.

Kemarahan harimau-harimau tersebut karena terusik oleh ulah Amad membuat mereka menunggu dibawah pohon, berhari-hari Amad tertahan diatas pohon tanpa makan dan minum. Seekor monyet melihat dari kejahuan kegelisahan Amad yang sedang menahan rasa takut dan lapar. Sang monyet menaruh simpati pada Amad, diantarnya buah-buahan untuk Amad untuk bisa bertahan hidup setiap hari. Dua minggu lebih Amad hidup atas pohon dengan bantuan makanan dari monyet. Pada akhirnya harimau-harimau yang menunggu Amat menjauh dari pohon tempat Amad berlindung. Monyet tersebut melihat sejauh mana sudah siraja hutan menjauh, setelah menunggu setengah jam monyet seperti member isyarat kepada Amad bahwa keadaan sudah aman, Amad sudah bisa turun.

Lantas Amad pun turun dan mengambil senjata berburunya yang terjatuh dibawah, monyet melihat dari kejauhan tapi masih pada posisi ideal untuk ditembak oleh Amad. Tak ada seekor binatangpun yang bisa menjadi sasaran tembak Amad, Amad pun berjalan meninggalkan hutan belantara untuk kembali kedesanya, namun dalam benaknya berkata “sungguh memalukan bisa tidak bisa membawa satu ekorpun hasil buruan”.

Monyet penolong Amad tetap mengikuti jejak Amat dari atas pohon sambil melompat-lompat, Amad sungguh kesal karena tidak mendapatkan hasil pada perburuan ini, terlintas dipikiranya untuk menembak binatang apa saja yang dia lihat. Monyet penolonglah yang setia mengantar Amad keluar dari belantara hutan yang ada, tanpa rasa belas kasihan dibidiknya sang monyet yang sedang mengamati sekelili apakah raja rimba mengikuti Amad. Dor…… sebutir timah panas menembus bulu halus lansung menuju jantung monyet yang telah menolong Amad. Dalam hitungan detik monyet jatuh tersungkur ditanah, dengan tatapan mata tajam melihat kearah Amad, monyetpun mati pas saat Amad menyentuh sang monyet untuk dibawa pulang.

Dengan gagahnya Amad keluar hutan tanpa merasa bersalah apalagi iba terhadap monyet yang telah menolongnya. Begitulah angkuh dan sombongnya Amad yang tega membunuh monyet yang telah menolong dia bertahan hidup.
Keangkuhan manusia dalam menjarah alam tanpa penduli akan akibatnya bisa kita lihat dimana hutan-hutan saat ini menjadi gundul, gajah keluar dari habitatnya karena semakin sempit ruang tempat mencari makan.

STOP PENEBANGAN HUTAN, MARI KITA LESTARIKAN HUTAN UNTUK GENERASI AKAN DATANG.