Foto source: Chaideer Mahyuddin/acehkita.com

Salak senjata kembali membahana dinegeri serambi mekkah, tetesan darah membasahi tanah kami saban hari, perburuan yang bernama teroris menjadi berita utama koran-koran lokal, bahkan televisi nasional mengadakan siaran khusus.

Lama sudah semenjak MoU antara pemerintah Indonesia (GOI) dan Gerakan Aceh Merdeka ditandatangani di eropa jauh sana tek terdengar lagi salak senjata antar pihak bertikai, kami juga tidak paham apa yang dipertikaikan waktu itu, yang kami tahu saban hari ada saja anak-anak menjadi yatim dan istri menjadi janda.

Kini, setelah beberapa tahun indahnya damai itu bersemi di nanggroe kami, kedamaian itu kembali terusik dengan hadirnya sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab yang diberi label oleh pemerintah Indonesia dan manusia-manusia dari barat sana dengan teroris. Diawali oleh penggerebekan tempat mereka latihan di pegunungan Jalin-Jantho, Aceh Besar yang merembet ke Lamkeubeu-Seulimun trus ke Padang Tiji, Pedie dan terakhir tertembaknya 2 teroris serta ditangkapnya 8 orang yang sudah diuber-uber oleh pihak keamanan Indonesia semalam 2 minggu lebih di depan Polsek Leupeung, Aceh Besar.

Kejadia pada hari jumat jam 10.00 pagi tersebut yang peling membuat saya gusar, bagaimana tidak, saya harus melewati arena kontak tembak dalam perjalanan pulang dari Calang menuju Banda Aceh. 2 Jam lebih kami bertahan di Lamno karena ada informasi jalanan ditutup setelah kontak tembak berlansung untuk menghindarai korban dari pihak sipil.

Telpon dan SMS yang masuk mengabarkan, kalau tidak memungkinkan lebih baik tidak kembali dulu ke Banda Aceh karena kondisi keamanan rawan. Peringatan dari kantor sudah saya terima semenjak belum berangkat 3 hari yang lalu agar berhati-hati dijalan dan larangan untuk berpergian dimalam hari. Larang berpergian dimalam hari merupakan suatu peringatan bahwa keamanan di Aceh sudah mulai tidak bersahabat.

Saya tidak paham apa yang diperjuangkan oleh para teroris tersebut, mereka mengklaim diri sedang melakukan jihat, kalau memnag berjihat lantas siapa yang mereka perangi? Dalam hukum Islam membunuh orang yang non Islam sama hukumnya dengan membunuh orang Islam apabila non muslem tidak menyerang umat Islam. Di Indonesia pemeluk antar umat beragama saling rukun dan damai dalam menjalankan ibadahnya, saling menghargai sesama. Etnis Tionghawa saja yang konon kaum pendatang kami hargai, apa lagi suadara kami yang sebangsa dan setanah air.

Kita sangat menyesalkan tindakan segelintir orang yang telah membawa-bawa agama untuk melakukan kejahatan teorisme, Islam adalah agama rahmatan lil alamin bagi segenap umat manusia dibumi ini, kenapa kita harus berperang. Bagi teroris, sadarlah anda, bahwa perjuangan yang anda lakukan itu salah. Sekali lagi, jangan kacaukan damai ditanah kami, kami akan melawan siapapun yang ingin mengacaukan tanah kami, tanah tempat kami meniti hari tua. Sudah cukup 32 tahun kami hidup dengan banyang-banyak ketakutan.