Tengku Adli Abdullah memperlihatkan sertifikat/surat wakaf Rumoh Aceh (Baitul Ashy) dari pemerintah Arab Saudi

Artikel ini bisa dikatakan sebuah pelampiasan atas pencarian yang begitu lama terhadap makna bait lirik lagu Rafli dengan judul Sukee 300, petualangan pencarian makna tersebut sudah sangat lama saya lakukan walau tidak terfokus, namun bila ada orang yang saya anggap tepat maka selalu saya pertanyakan makna dari bait lirik lagu tersebut. Banyak orang yang saya tanyakan mulai dari teman-teman sampai orang yang  tidak dikenal namun memiliki kesempatan untuk bertanya tidak saya sia-siakan, namun belum menumukan jawaban yang bisa saya terima.

Petualangan tersebut diakhiri dengan menemukan sebuah jawaban yang  masuk akal (menurut pandangan saya) dari pakarnya Tengku Adli Abdullah. Kunjungan singkat ke kediaman Adli Abdullah didasari atas keinginan teman-teman Aceh Blogger yang menjadi pengelola website ensiklopedia daring Acehpedia.org untuk menggali lebih jauh sejarah Aceh dari pakarnya. Ide awal sebelum berjumpa hanya ingin mengetahui lebih jauh tentang hukom adat laoet yang berlaku dalam masyarakat Aceh yang kebetulan Adli Abdulla adalah panglima laot Aceh. Perbincangan tentang hukom adat laot hanya sempat dipertanyakan namun Adli menjawab itu hanya hal kecil, kita bicarakan masalah sejarah Aceh saja.

Pembicaraan hangat penuh keakraban tentang kerajaan Aceh Darussalam, suku asli bangsa Aceh, tanah wakaf rakyat Aceh di Arab Saudi dan masih banyak lagi. Pertanyaan saya tentang sukee 300 tidak hanya dijawab dengan oral tapi juga tulisan, berikut ini petikan tulisan Tengku Adli Abdullah.

Ureung Aceh adalah orang yang berjiwa kosmopolitan alias bisa menerima siapa saja atau suku bangsa apapun. Untuk mengelompokkan etnisitas, sistem kerajaan Aceh menyusun kependudukan berdasarkan negeri asal suku bangsa tersebut, sebagaimana dilukiskan dalam hadih maja “Sukee lhee reuthoh bak aneuk drang, Sukee ja sandang jeura haleuba, Sukee tok bate na bacut bacut, Sukee imuem peut yang gok-gok donya.” Harus diakui, tidak banyak orang memahami hadih maja tesebut.
Sukee di sini dalam kata lain artinya suku sehingga hadih maja ini menggambarkan keragaman suku bangsa di dunia yang berdomisili di Aceh. Semuanya berhasil disatukan oleh sultan Alaidin Riayatsyah Al Qahhar (5537-1565) di bawah panji Islam dan terayomi di bawah payung kerajaan Aceh Darussalam.
Suku lhee reutoh diumpamakan bak aneuk drang, berarti seperti pohon padi yang tumbuh kembali setelah musim panen. Bahasa lain adalah sebuah pengambaran tentang suku tiga ratus ini banyak sekali dibandingkan dengan suku lain yang berada di tanah rencong. Kelompok suku tiga ratus ini di antaranya Batak Karee, Mante, Gayo, Alas, dan Kluet. Sebagian Batak Karee saat itu berdomisili di Lampanah dan Lamteuba, Aceh Besar. Sedangkan pendatang dari India dan kawin dengan penduduk asli mareka dikelompokkan dalam suku ja sandang.

Marcopolo, seorang pengembara Venetia, Italia yang mengaku pernah tinggal di kerajaan Pasai selama lima bulan pada tahun 1292 M di zaman pemerintahan Malikussaleh. Dalam catatan hariannya “The Travel of Marcopolo” melukiskan, di Pasai banyak sekali berdomisili orang India, mereka kawin dengan penduduk asli setempat. Al Qahhar juga mengakui keberadaan imigran Arab, Cina, Jawa, Bugis, Jamee, Semenanjung tanah melayu, mareka ini dimasukkan dalam suku Tok Batee yang diistilahkan na bacut bacut (kaum minoritas), mereka menguasai perdagangan dan bisnis.

Sedangkan mantan para pemimpin yang tersisih atau diusir dari negerinya akibat berlawanan alur politk di negara asalnya, yakni semacam polical asylum (suaka politik) sekarang, dikelompokkan dalam Suku Imuem Peut, kelompuk ini digambarkan mampu menggoncangkan dunia, karena ilmu pengetahuannya. mereka dianjurkan kawin dengan penduduuk Aceh Asli agar melahirkan keturunan cerdas.

Kutipatan tulisan dan penjelasan beliau secara langsung sudah cukup untuk bisa saya pahami bait lirik lagu Rafli tersebut. Semoga generasi muda Aceh tidak pernah melupakaan adat budaya endatu. Bercermin dari negeri tetangga Malaysia yang menanam paham, ilmu pengetahuan, jabatan atau apalah boleh internasional tapi tidak pernah melupakan adat dan budayanya, hal ini bisa dilihat dari gadis-gadis melayu yang masih setia dengan baju kurungnya. Bagaimana dengan generasi muda Aceh?