Pasar Hewan Gandapura

Tulisan ini hasil copy paste dari blognya Darlina New yang diposting pada 23 Juli 2004, namun seumber aslinya milik Acehkita.com. Saya coba mencari disumber asal namun sudah tidak ada lagi karena webnya sudah berganti, jadi sang penulis tidak diketahuai. Bagi saya tulisan ini sangat menarik dimana 2 pihak yang bertikai dalam konflik Aceh saling gencatan senjata untuk mencari se-ekor karbau milik pak Ali, walau hanya sesaat, namun perlu kita garis bahawahi bahwa sanya konflik besar mungkin bisa diselesaikan dari hal yang kecil, namun unsur kepentingan politik dan ekonomi segelintir elit sering menjadi penghambat.

Rakyat kecil mengharapkan damai, karena mereka memang tidak ada kepentingan dengan konflik, lihat saat ini setelah perang berkepanjangan selama 32 tahun lebih dengan iming kesejateraaan bagi selurug rakyat Aceh apa yang kita dapatkan? Segelintir orang memang mendapatkan kemakmuran dari perdamaian ini, namun itu tidak mewakili seluruh rakyat Aceh. Celakanya lagi, mereka yang dulu konon katanya berjuang untuk memberi keadilan bagi masyarakat Aceh kini malah sebaliknya, rebutan proyek pada dinas-dinas menjadi lahan bisnis baru.

Pengalaman saya saat memperjuangkan pemotongan biaya rehab rumah bantuan Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR) Aceh-Nias ditanah kelahiran dari oknum yang tidaj bertanggung jawab, dana rehap sebesar Rp. 2.500.000,- untk tahap pertama disunat Rp.500.000,- untuk setiap penerima dengan dalih biaya administrasi.

Saya selaku orang yang paham prosedur pencairan dana bantuan rehap rumah dari BRR protes, namun kesalahan saya, tidak berani melakukan protes langsung kepada oknum penyunat karena rasa paranoid saya dengan konflik belum lagi sembuh. Saya tahu kalau dibalik oknum penyunat bermain oknum-oknum bekas pemanggul senjata masa konflik. Ah… tak usahlah saya perpanjang lagi opini saya tentang hal ini, silahkan anda menilainya sendiri. Ok, mari kita baca tulisan menarik ini.

***

Akhir Juni 2004, atau sekitar sepekan menjelang pemilu presiden dilaksanakan, di sebuah dusun pedalaman Kecamatan Peusangan, Bireuen, terjadi sebuah peristiwa yang mengagumkan bagi siapa saja yang mendengarkannya. Kejadian ini melibatkan dua pihak yang tengah bertikai di Aceh; Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Kisah ini adalah tentang bersatunya GAM dan TNI untuk memburu pencuri yang meresahkan masyarakat.

***

Suatu pagi, di Dusun Langgien, Desa Kumbang, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, warga dikejutkan dengan hilangnya sebuah kerbau milik Pak Ali, penduduk setempat.

Kehilangan itu diketahui Pak Ali pada pagi harinya, ketika ingin memberi makan ternak yang telah dipeliharanya sejak kecil dan digunakan membajak sawah itu. Spontan Pak Ali kaget mendapati kerbau jantan yang ditaksir berharga Rp 4-5 juta itu, raib.

Kehilangan itu langsung diceritkan Pak Ali kepada tetangganya. Tentu saja para tetangga menjadi heboh karena pencurian ternak besar, baru kali ini terjadi di desa itu. Namun kalau “hanya” kemalingan ternak kecil semisal ayam dan bebek memang sudah sering terjadi.

Berita itu pun bahkan terdengar oleh anggota gerilyawan yang sering melintasi daerah itu. Kebetulan, ada salah seorang anggota GAM yang pernah terdaftar sebagai penduduk di Desa Kumbang. Mendengar berita kemalingan itu, anggota gerilyawan pun gusar. Maklum, mereka yang dipercaya selalu kekurangan logistik, khawatir dijadikan kambing hitam.

Anggota GAM pun lalu berusaha mencari tahu siapa sebenarnya yang melakukan aksi pencurian tersebut. Informasi pun dihimpun dari warga desa sejak dari awal mula. Tak tanggung-tanggung, GAM juga menyarankan kepada sebagian warga desa untuk mencari tahu ke tempat penjualan kerbau di Kecamatan Gandapura.

Di saat yang sama, pasukan TNI yang sedang berpatroli untuk pengamanan menjelang pemilu presiden 5 Juli lalu, juga mencium berita kemalingan tersebut. Penasaran dan juga tak ingin digosipkan sebagai pelakunya, spontan mereka menyalahkan GAM sebagai pelakunya.

“Ini pasti GAM yang punya ulah,” sebut Mae (nama samaran) menirukan ucapan salah seorang tentara kepada warga setempat ketika itu.

Warga yang mendengar hanya diam. “Salah-salah kamoe dikira dukung awak GAM, jeut karu (salah-salah kami malah dituduh mendukung GAM, bisa kacau),” sebut Mae kepada acehkita.

Tak tinggal diam, TNI juga berusaha menemukan pelaku pencurian tersebut dengan melakukan langkah yang sama dengan GAM, yaitu mencari ke mana biasanya kerbau itu dibawa untuk dijual.

***

Pak Ali ditemani salah seorang warga lalu berusaha mencari kerbau tersebut ke salah satu pasar hewan yang ada di Gandapura. Benar saja, Pak Ali dengan mudah menemukan kerbaunya di tempat tersebut. Agen kerbau pun menceritakan kalau kerbau tersebut dibeli dari salah seorang warga pada pagi harinya. Dia pun kemudian menyebut sebuah nama, Syuib (nama samaran) dan ciri-ciri orang tersebut. Tak sulit, karena agen kerbau itu pun mengenal si penjual.

Kepada si penjual, Pak Ali lalu menceritakan bahwa kerbau itu adalah miliknya yang dicuri seseorang. Untunglah, agen kerbau itu cukup mengerti dan dia berjanji tidak akan menjual kerbau itu, hingga pencurinya ditemukan.

Pulang ke desanya, Pak Ali pun menceritakan informasi yang didapatnya. Warga Desa Kumbang mengenal Syuib sebagai warga tetangga, Desa Kubu Raya. Informasi ini tentu saja diberitahukan oleh warga kepada TNI dan bahkan juga GAM yang masih penasaran dengan kejadian itu. Syuib pun telah mencium gelagat kalau aksinya telah diketahui. Dia lantas berusaha melarikan diri dari desanya dengan membawa uang hasil penjualan kerbau tersebut.

TNI dengan sigap berusaha membantu warga untuk mencarinya, tapi Syuib sudah tak ditemukan lagi di desanya. TNI dan beberapa warga lalu berusaha mencari Syuib di daerah perbukitan dan di desa-desa tetangga.

Sementara itu, GAM juga mencari Syuib di daerah perbukitan yang mereka kuasai, menghindari kemungkinan kaburnya Syuib melalui jalan hutan. Ketika itu, GAM tidak mengetahui kalau TNI pun mencari Syuib.

Ketika TNI berusaha mencarinya ke daerah hutan, GAM menangkap sinyal Handy Talkie (HT) saat berada pada frekuensi yang sama. Kalau sudah begini, biasanya mereka saling ledek, psywar atau umpatan-umpatan lain.

“Ngapain, Tengku di atas,” sebut seorang anggota TNI kepada GAM melalui HT.

“Lagi buru pencuri,” jawab GAM serius.

Tentu saja TNI kaget, sebab mereka pun sedang melakukan hal yang sama. TNI lalu menanyakan kepada warga, apakah GAM tahu kasus pencurian itu. Sebab, dalam dugaan TNI, GAM-lah yang berusaha membantu Syuib memuluskan aksi pencurian tersebut.

Warga pun membenarkan, bahwa pihak GAM juga tengah berupaya melakukan pencarian Syuib. Entah siapa yang memulai, terjadilah kesepakatan sesaat untuk tidak saling menyerang bila nanti bertemu dalam upaya pencarian. Apalagi, ada warga sipil yang bersama mereka dan khawatir menjadi korban.

Tak lama setelah itulah, di sebuah kebun pinang di kaki perbukitan, salah seorang warga menemukan sebuah tas berisi beberapa potong baju. Warga memperkirakan tas itu adalah milik Syuib.

Benar saja, Syuib yang ternyata telah kepergok GAM di atas sana, berusaha bersembunyi di kebun tersebut. Malang, ia pun kedapatan oleh warga dan TNI. Tanpa penjang lebar, Syuib jujur mengakui telah mencuri kerbau Pak Ali kerena butuh uang.

Oleh TNI, Syuib hanya dinasehati dan diserahkan kepada warga.

“Terserah Bapak-bapak bagaimana mengadili dia,” sebut salah seorang TNI disertai ancaman tembak kalau mencuri lagi. Penangkapan itu pun kemudian diketahui oleh GAM. Dan mereka pun berlalu setelah tahu pencurinya telah tertangkap. Mereka kembali bergerilya, menjauhkan diri dari kemungkinan kontak tembak dengan TNI.

***

Oleh warga, Syuib lalu dimaafkan, karena dia mengaku khilaf. Dan Syuib pun mau bertanggung jawab untuk mengembalikan uang hasil penjualan kerbau Pak Ali. Pak Ali kemudian menemui agen kerbau dan mengembalikan uangnya serta membawa pulang kerbau jantan kesayangnnya. Syuib pun jera, dan mengaku tidak mengulagi perbuatannya lagi.

Tentu saja Syuib jera. Pasalnya, dia diburu dua kekuatan bersenjata sekaligus. Demi menangkap Syuib, mereka sepakat melakukan gencatan senjata. [A]