Artikel lama yang sudah pernah dipublish di sebuah blog, namun gara-gara blog tersebut malas diurus maka dipindahkan kesini saja, blog lama juga sudah dihapus. Artikel ini sendiri merupakan materi saat mengikuti training Gender Mainstreaming (pengarus utamaan gender) yang dilaksanakan oleh Aceh Peace Resource Center (APRC).

Sangat menarik bagi saya yang baru pertama kali mengitu training ini kerana dapat mematahkan semua pemahaman saya selama ini tentang isue gender yang selalu dibicarakan oleh kaum perempuan. Dalam perspeksi saya yang awam menggangap isu gender hanyalah sebuah perjuangan kaum perempuan yang ingin mendapatkan hak sama dengan kaum adam. untuk jelas nya apa sih isue gender silahkan membaca artikel berikut ini yang ditulis oleh Prof. Dr. Syahrial Abbas. Semoga nada tidak bosan membaca sampai habis artikel ini yang lumayan panjang. :p

Gender Dalam Perspektif Islam dan Nilai Budaya Masyarakat Aceh
Oleh : Prof. Dr. Syahrizal Abbas.

Pendahuluan

Salah satu isu yang paling hangat dibicarakan akhir-akhir ini adalah masalah gender. Masalah ini merebak kepermukaan sebagai wacana aktual dalam kerangka pemikiran Islam. Perbedaan laki-laki dan perempuan masih menyimpan sisi-sisi problematis baik dari segi substansi kejadian maupun peran yang diemban dalam masyarakat.Perbedaan anatomi biologis antara keduanya cukup jelas. Akan tetapi efek yang timbul akibat perbedaan itu menimbulkan perdebatan, karena ternyata perbedaan jenis kelamin secara biologis (seks) telah melahirkan seperangkat konsep budaya. Interpretasi budaya terhadap perbedaan jenis kelamin inilah yang disebut gender. Perbedaan secara biologis antara laki-laki dan perempuan mempunyai nilai implementatif di dalam kehidupan budaya. Persepsi sebagian masyarakat menunjukkan bahwa jenis kelamin akan menentukan peran seseorang yang akan diemban dalam masyarakat. Jenis kelamin telah dijadikan sebagai atribut gender yang senantiasa digunakan untuk menentukan relasi gender, seperti pembagian fungsi, peran dan status di dalam masyarakat. Penentuan seperti ini telah melahirkan bias gender yang merugikan perempuan.
Fakta ini akan sangat menarik bila dihubungkan dengan Al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam. Al-Qur’an sangat bijak berbicara tentang masalah gender dengan mengedepankan prinsip keadilan, kesetaraan dan kemitraan. Al-Qur’an tidak pula menafikan adanya perbedaan (distinction) antara laki-laki dan perempuan, tetapi perbedaan tersebut bukanlah pembedaan (discrimination) yang menguntungkan salah satu pihak dan merugikan pihak lainnya.
Prinsip yang dibawa Al-Qur’an mengenai gender ini telah diberikan pemahaman yang beragam oleh ulama tafsir dan ulama fiqh. Akibatnya relasi ideal antara laki-laki dan perempuan sebagai makhluk Allah SWT pada taraf tertentu telah terjadi distorsif, yang mana pihak yang satu menjadi superior terhadap pihak lain. Penafsiran terhadap teks agama yang menyebutkan bahwa perempuan memiliki keterbatasan dalam akal telah menjadikan ia bagian inferior dari laki-laki. Akibatnya perempuan telah kehilangan kesempatan untuk berbuat sesuai dengan perannya dalam masyarakat. Gambaran abstrak ini dapat disimak dalam lintasan sejarah perempuan di dunia Islam.

Konsep Gender
Kata “gender” berasal dari bahasa Inggris, gender, berarti jenis kelamin. Dalam Webster’s New World, gender diartikan sebagai perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku. Sedangkan dalam Women’s Studies Encyclopaedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.
Hilary M. Lips dalam bukunya Sex and Gender : an Introduction mengartikan gender sebagai harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan. HT Wilson memahami konsep gender sebagai suatu dasar untuk menentukan perbedaan sumbangan laki-laki dan perempuan pada kebudayaan dan kehidupan kollektif yang sebagai akibatnya mereka menjadi laki-laki dan perempuan.

Meskipun kata gender belum masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, namun istilah tersebut sudah lazim digunakan, khususnya di Kantor Menteri Negara Urusan Peranan Wanita dengan ejaan ‘jender’. Gender diartikannya sebagai ‘interpretasi mental dan kultural terhadap perbedaan kelamin yakni laki-laki dan perempuan’. Gender biasanya dipergunakan untuk menunjukkan pembagian kerja yang dianggap tepat bagi laki-laki dan perempuan.Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa gender adalah suatu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari segi sosial budaya. Gender dalam arti ini mendefinisikan laki-laki dan perempuan dari sudut non biologis. Hal ini berbeda dengan sex yang secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi. Istilah sex lebih banyak berkosentrasi pada aspek biologis seseorang yang meliputi perbedaan komposisi kimia dan hormon dalam tubuh, anatomi fisik, reproduksi dan karakteristik biologis lainnya. Sementara itu, gender lebih banyak berkosentrasi pada aspek sosial, budaya, psikologis dan aspek-aspek non biologis lainnya.

Studi gender lebih menekankan perkembangan maskulinitas (masculinity/rujuliyah) atau feminitas (feminity/nisa’iyyah) seseorang. Sedangkan studi sex lebih menekankan perkembangan aspek biologis dan komposisi kimia dalam tubuh laki-laki (maleness/zhukurah) dan perempuan (femaleness/unutsah). Untuk proses pertumbuhan anak kecil menjadi seorang laki-laki atau menjadi seoang perempuan, lebih banyak digunakan istilah gender daripada istilah seks. Istilah seks umumnya digunakan untuk merujuk kepada persoalan reproduksi dan aktivitas seksual, selebihnya digunakan istilah gender.

Laki-Laki-Perempuan dalam al-Qur’an dan Budaya Aceh
Dalam pandangan Islam segala sesuatu yang diciptakan Allah SWT berdasarkan kodrat. “Sesungguhnya segala sesuatu Kami ciptakan dengan qadar” (Q.S. Al-Qamar : 49). Para pakar mengartikan qadar di sini dengan ukuran-ukuran, sifat-sifat yang ditetapkan Allah SWT bagi segala sesuatu, dan itu dinamakan kodrat. Dengan demikian, laki-laki dan perempuan sebagai individu dan jenis kelamin memiliki kodratnya masing-masing. Syeikh Mahmud Syaltut menyatakan bahwa tabiat kemanusiaan antara laki-laki dan perempuan berbeda, namun dapat dipastikan bahwa Allah SWT telah menganugerahkan potensi dan kemampuan kepada perempuan sebagaimana telah menganugerahkannya kepada laki-laki.
Ayat Al-Qur’an yang populer dijadikan rujukan dalam pembicaraan tentang asal kejadian perempuan adalah firman Allah dalam Surah An-Nisa’ ayat 1 “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu, yang telah menciptakan kamu dari diri (nafs) yang satu, dan darinya Allah menciptakan pasangannya dan keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak”.
Yang dimaksud dengan ‘nafs’ di sini menurut banyak ulama adalah Adam dan pasangannya adalah isteri beliau yaitu Hawa. Pandangan ini kemudian telah melahirkan pandangan negatif kepada perempuan, dengan menyatakan bahwa perempuan adalah bagian laki-laki. Tanpa laki-laki perempuan tidak ada, dan bahkan tidak sedikit di antara mereka berpendapat bahwa perempuan (Hawa) diciptakan dari tulang rusuk Adam. Kitab-kitab tafsir terdahulu hampir bersepakat mengartikan demikian.
Kalaupun pandangan di atas diterima yang mana asal kejadian Hawa dari rusuk Adam, maka harus diakui bahwa ini hanya terbatas pada Hawa saja, karena anak cucu mereka baik laki-laki maupun perempuan berasal dari perpaduan sperma dan ovum. Allah menegaskan hal ini dalam Surah Ali Imran ayat 195 “Sebagian kamu adalah bahagian dari sebahagian yang lain”. Ayat ini mengandung makna bahwa sebahagian kamu (laki-laki) berasal dari pertemuan ovum perempuan dan sperma laki-laki dan sebagian yang lain (yakni perempuan) demikian juga halnya. Allah menegaskan dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 159 “ Allah tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan.
Adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan tidak dapat disangkal karena memiliki kodrat masing-masing. Perbedaan tersebut paling tidak dari segi biologis. Al-Qur’an mengingatkan : “Janganlah kamu iri hati terhadap keistimewaan yang dianugerahkan Allah terhadap sebagian kamu atas sebagian yang lain. Laki-laki mempunyai hak atas apa yang diusahakannya dan perempuan juga mempunyai hak atas apa yang diusahakannya” (Q.S. An-Nisa’ : 32)
Ayat di atas mengisyaratkan perbedaan, dan bahwa masing-masing memiliki keistimewaan. Walaupun demikian, ayat ini tidak menjelaskan apa keistimewaan dan perbedaan itu.

Namun dapat dipastikan bahwa perbedaan yang ada tentu mengakibatkan fungsi utama yang harus mereka emban masing-masing. Di sisi lain dapat pula dipastikan tiada perbedaan dalam tingkat kecerdasan dan kemampuan berfikir antara kedua jenis kelamin itu. Al-Qur’an memuji “ulul albab” yaitu yang berzikir dan memikirkan tentang kejadian langit dan bumi. Zikir dan pikir dapat mengantar manusia mengetahui rahasia-rahasia alam raya. Ulul albab tidak terbatas pada kaum laki-laki saja, tetapi juga kaum perempuan, karena setelah Al-Qur’an menguraikan sifat-sifat ulul albab ditegaskannya bahwa “Maka Tuhan mereka mengabulkan permintaan mereka dengan berfirman ; ‘Sesungguhnya Aku tidak akan menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik lelaki maupun perempuan” (Q.S. Ali Imran : 195). Ini berarti bahwa kaum perempuan sejajar dengan laki-laki dalam potensi intelektualnya, mereka juga dapat berfikir, mempelajari kemudian mengamalkan apa yang mereka hayati dari zikir kepada Allah serta apa yang mereka pikirkan dari alam raya ini.
Jenis laki-laki dan perempuan sama dihadapan Allah. Memang ada ayat yang menegaskan bahwa “Para laki-laki (suami) adalah pemimpin para perempuan (isteri)”(Q.S. An-Nisa’ : 34), namun kepemimpinan ini tidak boleh mengantarnya kepada kesewenang-wenangan, karena dari satu sisi Al-Qur’an memerintahkan untuk tolong menolong antara laki-laki dan perempuan dan pada sisi lain Al-Qur’an memerintahkan pula agar suami dan isteri hendaknya mendiskusikan dan memusyawarahkan persoalan mereka bersama.
Sepintas terlihat bahwa tugas kepemimpinan ini merupakan keistimewaan dan derajat tingkat yang lebih tinggi dari perempuan. Bahkan ada ayat yang mengisyaratkan tentang derajat tersebut yaitu firmanNya “Para isteri mempunyai hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf, akan tetapi para suami mempunyai satu derajat/tingkat atas mereka (para isteri)” (Q.S. Al-Baqarah : 228). Kata derajat dalam ayat di atas menurut Imam Thabary adalah kelapangan dada suami terhadap isterinya untuk meringankan sebagian kewajiban isteri.
Al-Qur’an secara tegas menyatakan bahwa laki-laki bertanggungjawab untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, karena itu, laki-laki yang tidak memiliki kemampuan matrial dianjurkan untuk menangguhkan perkawinan. Namun bila perkawinan telah terjalin dan penghasilan suami tidak mencukupi kebutuhan keluarga, maka atas dasar anjuran tolong menolong yang dikemukakan di atas, isteri hendaknya dapat membantu suaminya untuk menambah penghasilan.
Jika demikian halnya, maka pada hakikatnya hubungan suami dan isteri, laki-laki dan perempuan adalah hubungan kemitraan. Dari sini dapat dimengerti mengapa ayat-ayat Al-Qur’an menggambarkan hubungan laki-laki dan perempuan, suami dan isteri sebagai hubungan yang saling menyempurnakan yang tidak dapat terpenuhi kecuali atas dasar kemitraan. Hal ini diungkapkan Al-Qur’an dengan istilah ‘ba’dhukum mim ba’dhi’—sebagian kamu (laki-laki) adalah sebahagian dari yang lain (perempuan). Istilah ini atau semacamnya dikemukakan kitab suci Al-Qur’an baik dalam konteks uraiannya tentang asal kejadian laki-laki dan perempuan (Q.S. Ali Imran : 195), maupun dalam konteks hubungan suami-isteri (Q.S. An-Nisa’ : 21) serta kegiatan-kegiatan sosial (Q.S. At-Taubah : 71).
Kemitraan dalam hubungan suami isteri dinyatakan dalam hubungan timbal balik: “Isteri-isteri kamu adalah pakaian untuk kamu (para suami) dan kamu adalah pakaian untuk mereka (Q.S. Al-Baqarah : 187), sedang dalam kegiatan sosial digariskan : “Orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain, mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, dan mencegah yang munkar (Q.S. At-Taubah : 71).
Pengertian ‘menyuruh mengadakan yang ma’ruf’ mencakup segi perbaikan dalam kehidupan, termasuk memberi nasehat/saran kepada penguasa, sehingga dengan demikian, setiap laki-laki dan perempuan hendaknya mampu mengikuti perkembangan masyarakat agar mampu menjalankan fungsi tersebut atas dasar pengetahuan yang mantap. Mengingkari pesan ayat ini, bukan saja mengabaikan setengah potensi masyarakat, tetapi juga mengabaikan petunjuk kitab suci.
Dalam konteks masyarakat Aceh, Relasi suami isteri juga didasarkan atas kelebihan dan keistimewaan masing-masing. Oleh karena itu, tanggungjawabnyapun didasarkan pada kapasitas dan kapabilitas keduanya. Misalnya, perempuan diberikan tanggungjawab untuk mendidik anak-anaknya, hal ini bukan berarti menjadi tugas ibu semata-mata, tetapi juga termasuk tugas bapak. Masyakat Aceh menganggap suatu sikap tercela jika seorang ayah tidak ikut aktif memelihara dan melindungi keluarganya dari segala macam usaha yang dapat menjerumuskan mereka ke jurang kebinasaan. Memang ibu dianjurkan untuk menyusukan anak-anaknya, tetapi untuk maksud tersebut sang ayah berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan isteri dalam rangka penyusuan itu.
Di beberapa daerah di Aceh seperti Aceh Besar, sebagian Aceh Utara dan Pidie perempuan ikut menggantikan posisi suami dalam memenuhi kebutuhan hidup seperti bekerja di ladang/sawah. Bahkan perempuan Aceh sudah mulai menjamah dunia ekonomi, perdagangan, politik, pendidikan dan sosial, sebagai lahan pekerjaan dan pengembangan profesi. Hal ini tidak berarti meninggalkan tugasnya sebagai seorang ibu/isteri.
Aktivitas perempuan dalam pentas politik sudah pernah dibuktikan dalam sejarah, di mana Aceh pernah diperintah oleh perempuan secara berturut-turut. Mereka adalah sultanah yang memimpin Kerajaan Aceh Darussalam yaitu, Safiyatuddin Tajul ‘Alam (1641-1675), Naqiyatuddin Nurul ‘Alam (1675-1678), Inayat Syah (1678-1688) dan Kamalat Syah (1688-1689). Pengangkat ke empat perempuan ini sebagai Sultan Aceh menunjukkan bahwa di Aceh tidak ada diskriminasi jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan dalam jabatan politik.

Kemitraan Suami Isteri
Islam mewajibkan laki-laki sebagai suami untuk memenuhi kebutuhan isteri dan anak-anaknya. Akan tetapi ini bukan berarti perempuan sebagai isteri tidak berkewajiban –walaupun secara moral—membantu suaminya mencari nafkah. Pada masa Nabi Muhammad SAW dan sahabatnya, sekian banyak perempuan/isteri bekerja dan mencari nafkah. Ummu Satim binti Malhah bekerja sebagai perias pengantin. Safiyah binti Huyay seorang pekerja dan bahkan Zainab binti Jahsy (isteri Nabi Muhammad SAW) bekerja menyamak kulit binatang, yang hasil usahanya beliau sedekahkan kepada fakir miskin. Isteri sahabat Nabi, Abdullah ibn Mas’ud, sangat aktif bekerja, karena suami dan anaknya ketika itu tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.
Atas dasar kelebihan dan keistimewaan masing-masing, maka tanggungjawabnyapun didasarkan pada kapabilitas keduanya. Misalnya, perempuan diberi tanggungjawab untuk mendidik anak-anaknya. Akan tetapi hal ini bukan berarti menjadi tugas ibu semata-mata, tetapi juga termasuk tugas bapak. Al-Qur’an memerintahkan ayah untuk memelihara melindungi keluarganya dari segala macam usaha yang dapat menjerumuskan mereka ke jurang kebinasaan. Memang ibu dianjurkan untuk menyusukan anak-anaknya, tetapi untuk maksud tersebut sang ayah berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan isteri dalam rangka penyusuan itu.
Banyak ditemukan uraian Al-Qur’an tentang bagaimana peran bapak dalam mendidik anak-anaknya. Contoh yang paling konkrit adalah bagaimana Luqman menasehati dan mendidik anak-anaknya (Q.S. Luqman : 13,14, dan 15), dan peran Rasulullah dalam kehidupan rumah tangga. Banyak riwayat yang menguraikan secara rinci partisipasi aktif Nabi SAW dalam berbagai urusan rumah tangga. Hammudah dalam bukunya Al-Rasul fi al-Bayt, menulis “Beliau selalu membantu keluarganya bahkan beliau sendiri yang menjahit bajunya yang robek, atau alas kakinya yang putus, beliau sendiri pula yang memeras susu kambingnya dan melayani dirinya sendiri. Beliau bahkan membantu keluarganya dalam tugas-tugas mereka dan menyatakan bahwa partisipasi suami dalam pekerjaan isteri (dirumah) dinilai sebagai sedekah”.
Rasulullah SAW mengingatkan para orang tua agar berlaku adil dan tidak membeda-bedakan anak atas dasar jenis kelaminnya. Di sisi lain baik anak laki-laki maupun perempuan berkewajiban menghormati orang tuanya dan membantu sebatas kemampuan mereka. Rasyid Ridha mengemukakan bahwa bukan termasuk pengertian berbakti kepada orang tua, jika perlakuan yang mengakibatkan tercabutnya hak-hak pribadi anak.
Pandangan Islam mengenai laki-laki dan perempuan baik dari sudut biologis maupun peran dan fungsi yang diemban dalam masyarakat merupakan pedoman bagi masyarakat Aceh dalam menterjemahkan posisi laki-laki dan perempuan dalam bingkai budaya. Laki-laki dalam masyarakat Aceh sudah diposisikan sebagai calon suami sehingga dia bekerja dan bertanggung jawab terhadap hal-hal yang layaknya dikerjakan oleh seorang suami. Demikian pula halnya dengan seorang perempuan diposisikan sebagai seorang ibu, sehingga ia bekerja dan bertanggung jawab terhadap hal-hal yang layaknya dilakukan oleh seorang ibu. Penempatan seperti ini bukan dimaksudkan untuk melakukan diskriminasi, tetapi sebagai upaya menjelaskan pembagian tugas sesuai dengan fungsi biologisnya.
Dari segi peran yang diemban dalam masyarakat memang terdapat perbedaan penafsiran. Ada daerah yang memberikan penafsiran budaya yang agak luas, sehingga perempuan dapat menggantikan peran laki-laki dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa seperti menjadi pemimpin pada lembaga-lembaga formal maupun informal. Penempatan peran seperti ini didasarkan pada kemampuan intelektual dan keahlian yang dimilikinya. Hal ini juga didasarkan pada ajaran hadis Nabi SAW yang melarang menempatkan seseorang pada posisi yang tidak sesuai dengan keahliannya.
Di samping itu, ada pula daerah-daerah di Aceh yang memberikan penafsiran budaya yang sempit terhadap peran laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Hanya perempuanlah yang diharuskan melakukan pekerjaan domestik seperti pekerjaan rumah tangga dan seolah-olah laki-laki tidak dibenarkan untuk melakukan perkerjaan itu. Dalam konteks ini kadang-kadang laki-laki dianggap menjadi superior terhadap perempuan.
Penafsiran budaya yang terakhir ini agaknya telah banyak berubah terutama akibat arus modernisasi yang malanda kehidupan masyarakat Aceh. Perubahan penafsiran dari ‘tradisonal’ ke ‘modern’ sangat dimungkinkan karena kehidupan masyarakat tidak pernah berhenti atau statis. Kehidupan masyarakat terus akan berubah sesuai dengan tingkat kecerdasan yang dimiliki oleh anggota masyarakat tersebut. Oleh karena itu, kehadiran wacana gender di kalangan masyarakat Aceh pada dasarnya bukanlah hal yang baru karena pembagian peran antara laki-laki dan perempuan telah memiliki konteks tersendiri bagi masyarakat Aceh.

Penutup
Secara umum Al-Qur’an mengakui adanya perbedaan (distinction) antara laki-laki dan perempuan, tetapi perbedaan tersebut bukanlah pembedaan (discrimination) yang menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain. Perbedaaan tersebut dimaksudkan untuk terciptanya hubungan harmonis yang didasari rasa kasih sayang (mawaddah wa rahmah) dilingkungan keluarga (Q.S. Ar_rum : 21), sebagai cikal bakal terwujudnya komunitas ideal dalam satu negeri yang damai penuh ampunan Tuhan (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur) (Q.S. Saba’ :15).
Konsepsi tentang relasi gender dalam Islam mengacu kepada ayat-ayat esensial yang sekaligus menjadi tujuan umum syari’at (maqashid as-syari’ah), seperti mewujudkan keadilan dan kebajikan (Q.S. An-Nahl : 90), keamanan dan ketentraman, menyeru kepada kabaikan dan mencegah kepada keburukan (Q.S. Ali Imran : 104). Nilai keadilan, tingkat keamanan, ketentraman dan nilai keburukan merupakan nilai-nilai yang bersifat universal.
Citra perempuan ideal dalam Al-Qur’an tidak sama dengan citra perempuan yang berkembang dalam sejarah dunia Islam. Citra perempuan yang diidealkan Al-Qur’an ialah perempuan yang memiliki kemandirian politik (al-istiqlal as-siyasah; Q.S. Al-Mumtahanah : 12), sebagaimana sosok Ratu Balqis, perempuan penguasa yang mempunyai kerajaan laha ‘arsyun ‘adhim; Q.S. An-Naml : 23). Perempuan yang memiliki kemandirian ekonomi (al-Istiqlal al-iqtisadi ; Q.S. An-Nahl : 97), seperti pandangan yang disaksikan Nabi Musa di Madyan, perempuan pengelola peternakan (Q.S. al_Qashas : 23) dan perempuan yang memiliki kemandirian dalam menentukan pilihan-pilihan pribadi(al-istiqlal as-syakhsi ; at-Tahrim : 11) yang diyakini kebenarannya.

Perempuan juga dibenarkan untuk menyuarakan kebenaran dan melakukan gerakan oposisi terhadap berbagai kebobrokan dan kemungkaran (Q.S. At-Taubah : 71) dan bahkan Al-Qur’an menyerukan perang terhadap suatu negeri yang menindas kaum perempuan (Q.S. An-Nisa’ : 5), karena laki-laki dan perempuan sama-sama berpotensi sebagai khalifatullah fi al-ardh dan hamba Allah SWT.

Daftar Bacaan:
Abdullah, Taufiq, Nilai-Nilai Budaya Masyarakat Aceh, Jakarta, LP3ES, 1990.
Abdurrauf As-Singkili, Tafsir Turjuman al-Mustafid, Singapore, Dar ‘Alam, 1988.
Al-Thabari, Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir, Jami’ al-Bayan an Ta’wil Ayat al-Qur’an, Syariqah Iqamad al-Din, t.t.
Al-Thabari, Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir, Jami’ al-Bayan an Ta’wil Ayat al-Qur’an, Syariqah Iqamad al-Din, t.t.
Fakih, Mansour, Menggeser Konsepsi Gender dan Transformasi Sosial, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1996.
Lips, Hilary M., Sex and Gender : an Introduction, California: Mayfield Publishing Company, 1993.
Neufeldt, Victoria, (ed.), Webster’s New World Dictionary, New York: Webster’s New York Clevenland, 1984.
Sulaiman, Abd al-Ghaffar, Mausu’at ar-Rijal al-Kutub al-Tis’ah, Beirut :Dar al-Kutub al-Ilmiyah, t.t.
Syaqqah, Abd Halim Abu, Tahrir al-Mar’ah fi ‘Asr al-Risalah, Mesir : Dar al-Qalam, 1990.
Umar, Nasaruddin, Argumen Kesetaraan Jender, Jakarta : Paramadina, 2001.
Wadud-Muhsin, Amina, Qur’an and Women, Kuala Lumpur : Fajar Bakti, 1992.
Wilson H.T., Sex and Gender, Making Cultural Sense of Civilization, Leiden, Koln : E.J. Brill, 1989.