Lantai 2 yang tersisa dari amukan Tsunami

Pagi itu matahari bersinar redup tapi bukan berarti mendung, aku tak tahu kenapa pagi ini mentari seperti bersedih, seperti melihat sesuatu akan terjadi. Jam 7 pagi orang-orang berolahraga seperti biasa dihari minggu, ada yang jogging, jalan santai ada pula yang menyapu halaman rumah. Panitia road race di depan stadion Dhumurtala Lampineung sebuk menyiapkan pentas dan arena balapan, para gadis payung juga terlihat sudah ada dilokasi.

Jam 8 pagi goyangan kecil terasa tapi tak keras, tak semua orang merasakanya, selang beberap menit ayunan mulai terasa dan semakin lama ayunan semakin keras, isak tangis dan ucapan Allahu Akbar  terdengar bersama rasa takut. Suaran bangunan runtuh mulai terdengar menggema, kubah mesjid Al-Makmur Lamprit ambruk. Pagar yang terbuat dari beton pun sudah terlapas dari pondasinya, sepeda motor yang diparkir juga berjatuhan.

Kepala terasa pusing seperti mabuk laut akibat cuaca buruk dalam pelayaran dilaut lepas, 9.8 scala rickter gempa telah mengguncang tanah kelahiran kami. Tak banyak banyak korban akibat dari gempa ini dan tak banyak pula bangunan yang roboh akibat goncangan selama lebih kurang 10 menit.

Keheningan menusuk kalbu, tak banyak yang bicara, hanya tatapan kosong dari setiap mata yang kupandang. Listrik sudah dimatikan, namun telpon masih bisa dipergunakan, aku coba menghubungi rumah yang telah kutinggalkan dari sore hari sebelumnya, kring…kring dan suara hallo terdengar dari seberang, kenopakan perempuan satu-satunya yang berbicara, kutanyakan bagaimana keadaan rumah, tak masalah katanya, hanya air saja yang tumpah dari sumur dan bak mandi dan beberapa lemari yang jatuh.

Hati sedikit lega karena tidak terjadi apa-apa dengan keluarga, berjalan melihat sekliling apa saja yang rusak namun aku tak berani jauh-jauh dari tempat ku bertugas pada pagi itu, tanggung jawab menjadi penghalang pula untuk pulang kerumah.

Orang-orang mulai berlari sambil berteriak 30 menit berselang gempa usai, aku tak percaya karena aku tidak  mengetahui apa itu tsunami. Mataku terbelalak kala melihat air yang keluar dari bawah jembatan Lampriet dengan ketinggian melebihi permukaan jembatan bagaikan air dipintu air yang baru saja dibuka.

Dari kejauhan tampak pantai Ulee Lheu yang berjarak sekitar 5 KM dari rumah

Tanpa pikirpanjang aku berlari meraih sepeda motor yang diparkir dilapangan tebuka, sekali stater motorpun hidup, tancap gas tanpa penduli siapa yang memanggil karena yang ada dipikiran lairi sejauh mungkin dari air laut yang berwarna hitam pekat itu. Melewati jalan T. Nyak Makam lalu menuju simpang 7 Ulee Kareng, namun kemacetan tak terhindari, walau berjalan pelan akhirnya sampai juga didepan bandara Sultan Iskandar Muada (BTJ), berhenti sebentar karena salah satu penduduk mengatakan tidak usah lari lagi, kalau air sampai kesini maka kiamat telah tiba, buat apa lari lagi. Sambil menunggu aku sempat membeli sebungkus nasu gurih dan sebotol air mineral sebagai bekal untuk sarapan.

Aku masih menunggu, namun melihat ibu sambil menggendong bayi, bapak yang hanya dengan balutan handuk masih berlari mencari ketinggian akupun akut mengikutiya kearah yang aku sendiri tidak tahu. Hamparan sawah terlihat samar-samar dibawah, kami sudah mencapai ketinggian maksimal menurut penduduk setempat, karena kalau berjalan lagi maka kami akan kembali ke arah Kruang Raya yang berarti kami kembali lagi ke laut. Semua kami berhenti, isak tangis dari anak kecil, ibu-ibu bahkan bapak-bapak menjadi pemandangan tak terlupakan. Aku tak peduli sekeliling, nasi gurih yang aku beli tadi langsun ku santap karena lapar, namun ada seorang bapak yang meminta air meneral untuk anaknya yang masih bayi, sambil menunjuk kearah anaknya sang bapak berkata, dia menangis karena kehausan, minta tolong airnya sedikit dek, aku perhatikan bayi mungil yang tak aku tahu jenis kelaminnya itu manangis dipangkuan ibunya, tak sampai hati aku untuk tidak memberikan, air mineralpun kuberikan kepada si bapak.

Kuburan Massal Lambaro - Aceh Besar

Dua atau tiga jam kami diatas bukit sambil terus menerus melihat kebawah, kami coba turun namun dijalan salah seorang anggota Polisi Militer Angkatan Udara melarang kami, melalu radio dia mendapatkan informasi bahwa air laut masih naik. Kamipun membatalakan niat untuk turun tapi tidak kembali ke bukit.

Jam 1 siang aku turun dan berkumpul di depan bandara Sultan Iskandar Muda dengan orang-orang yang tidak aku kenal sambil tidur-tiduran dijalan, aku teringat rumah dan ingin segera pulang, dari kejahuan akau melihat seorang teman dan aku sapa, dia dan istrinya sudah menumpang dirumah orang tua tetangganya, akupun diajak kesana.

Dirumah yang tak kukenal pemiliknya, aku diberikan makan siang. Setalah makan siang aku pamitan untuk pulang namun pemilik melarangnya, mungkin dia sudah tau apa yang terjadi. Tapi aku tak peduli, aku ambilkan motor dan tancap gas menuju rumah melewati Lambaro ke arah Ketapang, dijalan aku berjumpa dengan beberapa penduduk desa tempat tinggal, aku bertanya bagaimana keadaan kampung, tak ada satupun yang menjawab hanya tatapan kosong dan linangan air mata yang ku lihat.

Sudahlah, tak usah bertanya hati kecilku bicara. Sesampai di simpang Dodik Lamteumeun aku terperanjat melihat jalanan yang dipenuhi sampah, walau dipenuhi sampah yang kebanyakan dari bahan bangunan rumah seperti papan dan seng, sepede motor tetap aku bawa, dengan bantuan dari anggota polisi Bawah Kendali Operasi (BKO) aku bisa melewati jalanan. Suasana berbeda dari para polisi ini sangat terasa, biasanya mereka melihat kami bagaikan musuh bila melintas didepan pos mereka, namun tidak untuk hari ini.

Didepan MAN 2 Banda Aceh aku parkirkan motor dan berjalan kaki meunuju rumah karena tak mungkin lagi melewati jalanan yang dipenuhi puing-puing yang dibawa air laut. Sekitar 100 meter aku berjalan aku merasa lutut ku lemas ketika melihat hamparan luas tanpa rumah, dari kejauhan terlihat ombak di pinggir pantai yang tak pernah aku lihat sebelumya bila berdiri diposisi tersebut. Rumah kami terlihat dari kejauhan hanya tinggal lantai 2, aku tak peduli kata orang-orang yang melarang untuk melihat rumah, yang ada dipikiranku bagaimanapun caranya aku harus  mencapai rumah.

Aku melihat manyat-manyat tanpa busana lengkap bergelimpangan, tapi hanya beberapa saja yang aku kenal. Tak ada niat sedikitpun untuk mengangkatnya, aku hanya mencari keluarga, aku tak tahu kenapa hati terasa kaku untuk  mengangkat manyat-manyat tersebut, kalaupun aku mengangkatnya kemana aku harus membawanya, apakah aku  sanggup mengangkatnya sendiri terbesik dalam dalam pikiran saat itu.

Tak ada jalan lagi menuju rumah, yang ada hanya air dan lumpur, aku tak peduli jatuh ke lumpur setinggi pinggang, aku terus berjalan untuk mencapai rumah walau darah mulai mengalir dari luka akibat tergores benda tajam dalam lumpur, aku juga tak tahu berapa jumlah luka di kaki ku. Jarak yang hanya 1 KM aku tempuh hampir 1 jam untuk mencapai rumah, sesampai didepan rumah aku mulai tak bisa melihat apa-apa lagi, dimata yang ada hanya gelap, rumah sudah tak ada lagi, hanya garasi dan satu kamar lantai dua yang tersisa. Aku berhenti sejenak untuk istirahat mengembalikan stamina, 15 menit lamanya aku terpaku menatap keganasan tsunami dengan pikiran kosong, setelah aku menyadari dan bisa melihat kembali dengan jelas, aku naik lantai dua melalui tangga yang masih utuh sampai sekarang. Aku memanggil, abang, kakak dan keponakan yang tinggal serumah, aku menumpang dirumah abangku saat itu. Tak ada yang menjawab, sungguh bodoh aku, untuk apa memanggil sudah jelas aku lihat tak ada seorang pun disitu. Dilantai dua yang menjadi tempat tidur ku sehari-hari jendela sudah tidak ada lagi, kacanya pecah, komputer kesayangan bertebaran dilantai yang dipenuhi pasir dan sampah, lemari baju pecah tak beraturan. Hanya baju yang aku sangkut dibalik pintu yang masih utuh, aku ambil semunya dan pergi.

Syarwan Syah kini sudah kelas 2 SMP

Setiba ditempat aku parkirkan sepeda motor, sudah menunggu seorang keponakan, dia kenal dengan kendaraan aku, makanya dia menunggu disitu. Saat berjumpa aku tak mengenalnya lagi, lumpur dan lembam dimuka bekas hantaman benda keras saat digulung air laut sudah merubah wajahnya yang putih menjadi gelap. Untung dia memanggil, kalau tidak sungguh aku tidak mengenali wajahnya lagi. Aku peluk sambil menangis, tapi tak kutanyakan dimana keluarga yang lain. Otak ku memang sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Kami naik motor kembali ke Blang Bintang, sesampai di Keutapang hujan deras mengguyur, tak peduli aku terus memacu sepeda motor, namun keponakan ku tak tahan kedinginan, sesampai didepan SMA Lampeuneurut aku berhenti untuk menggantikan baju yang aku ambil tadi, aku baru sadar ternyata yang aku ambil semuanya hanyalah jaket, tak ada selembarpun baju. Ditengah-tengah hujan aku gantikan baju keponakan ku yang masih berumur 10 tahun saat itu, aku juga tidak sadar kalau menggantikan baju keponakan ku ditengah hujan deras akan sama saja, dia akan tetap kedinginan. Otak ku sekali lagi tidak berjalan semestinya.

Walau keponakan ku terus mengeluh kedinginan, aku tetap memacu sepeda motor menuju rumah yang tak ku kenali pemilikinya tadi. Sesampai dirumah tumpangan aku katakan sama pemiliknya, minta tolong tinggal disini semalam, kami sudah tidak ada rumah lagi. Tentulah pemiliki rumah yang seorang nenek mempersilahkan kami masuk, mandikan adikmu dulu disumur, ini handuknya, begitu katanya. Aku mandikan keponakan ku dan menaikinya kerumah, sang nenek menyodorkan baju cucunya untuk keponakan ku, walau ukuran tidak cocok namun itu sudah cukup untuk menghangatkan badanya. Aku juga diberikan baju pengganti oleh nenek untuk menggantikan baju yang sudah basah. Gempa kecil masih terasa begoyang, keponakan ku yang bernama Syarwan Syah terus menanyakan dimana orang tuanya, aku hanya bisa diam tanpa menjawab.

Tulisan ini aku persembahkan untuk keluarga ku yang menjadi korban dalam musibah gempa dan tsunami 2004 silam.