Pengenalan Open Office

Selama 2 hari mengikuti pelatihan pemanfaatan teknologi informasi (TI) untuk komunitas dan penulis yang diadakan oleh yayasan Nurul Fikri dan UNESCO di Hotel Diana Banda Aceh, banyak pengetahuan baru yang dapat depetik  terutama dalam hal penggunaan open source sofware dan penggunaan teknologi internet untuk tujuan positif.

Staff UNESCO Jakarta dalam kata sambutannya mengingatkan peserta “untuk tidak membuang-buang waktu di internet untuk hal-hal yang tidak berguna”, dari situ saya terpikir efek negatif dari intrenet bila pengguna tidak pandai dalam memanfaatkan teknologi itu sendiri maka kita akan terjerumus ke hal-hal yang tidak bermanfaat. Semalam saya menimbang apakah ngeblog menjadi hal yang bermanfaat bagi saya, namun setelah saya tidak online semalaman untuk menimbang dengan matang saya memutuskan untuk ngeblog, karena bagi saya ngeblog adalah menjadi tempat sharing infomasi dan pengetahuan, namun bagi facebook dan jejaring sosial lainya apakah berguna bagi saya?

Keseriusan peserta dalam mengkuti pelatihan.

Keseriusan peserta saat pelatihan

Dalam hal ini saya menilainya lain, tidak ada gunanya kita berlama-lama membuka laman web facebook tapi bukan berarti tidak boleh, karena manusia memerlukan rehat atau santai sejenak dalam menjalankan rutinitasnya. Bagi saya media sosial hanya tempat melepas lelah, jadi apabila ada kawan-kawan di media sosial yang mengaupdate status dengan topik-topik berat seperti masalah politik sungguh menyebalkan, bagaimana dengan anda?

Kembali ke palatihan pemanfaatan TI untuk komunitas dan penulis, pada hari pertama Bapak Rusmanto dari Infolinux banyak mengajarkan tentang dasar-sadar intenet yang bagi saya sebagai salah seorang mahasiswa tamatan dari jurusan manajemen informatika telah mendapatkannya dalam mata kuliah pengantar pengelohan data elektronik semester 1 menjadi tidak manerik untuk diikuti, namun karena terhubung dengan internet saya manfaatkan untuk memperbaiki salah satu blog saya yang error saat upgrade enggine wordpress dari versi 2.8 ke 2.9.

Selesai perkenalan internet dasar topik selanjutkan masuk ke perkenalan software open source, software yang  diperkenalkan adalah open office, sesi ini mendapatkan perhatian yang seriuas bagi saya, saya tidak tahu dengan peserta yang lain. Pak Rusmanto menjelaskan secara gamblang penggunaan open office sampai pada hal-hal teknis seperti ekstensi file .odt (open document text) yang merupakan suatu standar yang telah diakui oleh ISO (International Standards Organizations) sebagai suatu extensi terbuka dalam artian bebas dipakai oleh siapa saja.

Tak sampai disitu peserta juga diperlihatkan isi file dari .odt tersebut yang ternyata terdiri dari beberapa file .xml yang telah dijadikan archive. Ini benar-banar open source kerena kita bisa melihat isi source code dari file tersebut, berbeda jauh tentunya dengan .doc produk dari Microsoft.

Selain itu saya juga mendapatakan gambaran tentang extensi beberapa file yang sudah mendapat standar ISO sebagai extensi file yang bebas digunakan oleh siapa saja seperti .png dan .jpg untuk format foto, .ogg untuk audio, saya juga baru tahu kalau .gif dan .mp3 bukan extensi file open atau terbuka dalam artian setiap vendor software yang ingin menggunakan extensi tersebut dalam produk mereka maka harus mendapatkan lisensi terlebih dahulu dari pemiliknya, apakah berbayar atau tidak itu tidak penting, tapi harus mendapatkan izin itu merupakan suatu permasalahan dalam dunia open source. Oh ya, kalau ingin tahu lebih jauh tentang exstensi file bisa mempelajarinya di wikipedia sebagai acuan dasar.

Banyak hal baru saya dapatkan dihari pertama pelatihan yang tidak mungkin saya tulis disini semua, sejarah hak cipta software pada tahun 1976 di Amirika Serikat lewat undang-undang hak cipta yang digagas oleh Bill Gate dan konco-konconya adalah hal yang paling menarik. Saya memang telah sadar jauh-jauh hari bahwasanya undang-undang yang diciptakan adakalanya merupakan pesanan dari pengusaha dengan modal besar untuk memperlancar bisnis mereka. Masih ingat kasus korupsi ayat dalam undang-undang kesehatan mengenai tembakau yang tertuang dalam ayat 2 Pasal 113 UU tersebut sempat mengheboh Indonesia? ini bagian dari permainan kotor dari para pengusaha menurut pandangan saya.

Pelatihan hari kedua hanya berlangsung setengah hari membahas tentang etika berinternet dan open source software tentunya. Sebagai seorang yang cukup aktif didunia maya baik untuk mencari sesuap nasi atau hanya sebagai kesenangan dan hobi membicarakan masalah etika menjadi hal sangat-sangat penting bagi saya, sebagaimana tulisan saya sebebelumnya tentang etika berinternet. Internet yang begitu bebas membuat orang-orang keblablasan dalam memanfaatkan teknologi ini, lihat kasus Luna Maya yang memposting kata-kata tidak pantas di akaun twiternya berbuntut panjang sampai-sampai Persatuan Wartawan Indonesia melaporkanya ke Polisi. Kasus ini menjadi polemik, disatu sisi kebebasan berpendapat adalah hak asasi semua orang disisi lain kita juga harus menghargai hak asasi orang lain. Intinya kebebasan bukan arti bebas tanpa batas, kebebasan yang beretika dengan memepertimbangkan kebebasan orang lain, inilah yang disebut etika berinternet.

Pada sesi kedua kami kembali disuguhkan materi open source sofware namun lebih banyak berdiskusi, ada banyak pertanyaan yang diajukan oleh peserta terutama saya dan Muda Bentara, celakanya satu pertanyaan yang saya ajukan menjadi bumerang buat saya. “Bagaimana apabila pemanfaatan open source dilembaga pemerintah seperti aplikasi lelang online source codenya diketahui oleh semua orang, apakah tidak berbahaya dari segi keamananya?” tanya saya. Namun jawaban panjang lebar yang saya dapatkan berakhir dengan serangan balik kepada saya sebagai pengguna windows. “Biasanya orang yang bertanya seperti ini adalah orang-orang yang mencari kelemahan dari open source, namun ini bukan anda, tapi orang lain. Ada banyak faktor kenapa pertanyaan itu timbul, 1) karena memang ingin menjatuhkan open source, karena mereka dari kalangan pengguna windows 2) karena mereka memang tidak tahu 3) ingin mencari sensasi”. Begitu kira-kira jawaban dari Pak Rusmanto yang membuat saya sangat malu, namun tidak lantas membuat saya minder, karena dengan bertanya saya jadi tahu. Saat selesai pelatihan kawan-kawan mengatakan meraka tadi ingin mentertawakan saya, tapi tidak enak. Sungguh pelajaran paling berharga dari pelatihan ini.

Walau mendapatkan malu, namun saya sangat berterima kasih kepada Pak Rusmanto dan UNESCO Jakarta yang telah membuat pelatihan ini, banyak sekali ilmu yang saya dapatkan, yang tidak saya tulis disini. Buat kawan-kawan, sudah selayaknya kita memikirkan untuk bermigrasi ke open source software, saran saya tahap awal install 2 sistem operasi di PC/Laptopnya, setelah familiar denga open source (Linux) maka kita sudah bisa meninggalkan windows yang saya  yakin 80% kita menggunakan versi bajakan. Bagaimana, sepakat?