Sumber foto: cipugaponsel.blogspot.com

Sumber foto: cipugaponsel.blogspot.com

Upacara mee bu (mengantar nasi) sering juga disebut dengan upacara ba bu. Menurut adat masyarakat Aceh dara baro (pengantin perempuan) yang sudah hamil harus dikunjungi oleh mak tuan (mertua) dari pihak linto baro (pengantin laki-laki) dengan membawa bu kulah, yaitu nasi yang dibungkus dengan daun pisang berbentuk pyramid. Upacara ini dilangsungkan setelah selesai upacara tangkai atau masa umur kandungan 7 bulan sampai 8 bulan.

Untuk upacara ini bahan yang perlu dipersipakan berupa bu kulah dan lauk pauk yang terdiri dari ikan, daging ayam panggang, dan burung yang dipanggang. Bahan-bahan ini dimasukkan kedalam dua buah kateng (katil). Kateng pertama diisi dengan bu kulah dan kateng kedua diisi dengan lauk pauk. Bu leukat (nasi ketan) dan kue-keu masing-masing dimasukkan dalam sebuah talam (baki).

Selain bahan-bahan diatas mertua menyediakan juga sirih setapak (bahan-bahan sirih) pakaian sesalin (satu salin) dan uang alakadarnya. Bahan-bahan ini akan diberikan kepada bidien (bidan) sebagai tanda penyerahan tanggung jawab untuk merawat kelahiran bayi. Bahan-bahan pemberian ini disebut dengan peunulang. Semua bahan peuneulang diisi dalam sebuah baki.

Daging burung yang dipanggang, khusus disediakan untuk dara baro agar anak dalam kandungan menjadi cerdik dan lincah, secerdik dan selincah burung yang dimakan. Jenis burung yang biasa dipilih adalah burung merpati. Tujuan umum dari upacara ini adalah dara baro mendapat makan yang enak-enak sebagai penghormatan dari mertua untuk menghadapi masa kelahiran bayi. Karena pekerjaan melahirkan dianggap sebagai sambong nyawong (sabung nyawa), maka dara baro mendapat santunan dari sanak keluarganya.

Tiga hari sebelum berlangsung upacara dirumah mertua tampak kesibukan-kesibukan. Ia memberitahukan kepada kaum keluarga dan tetangga supaya bersama-sama memasak bahan-bahan persiapan dan turut serta mengantar kerumah menantunya. Peserta dalam upacara ini terdiri dari perempuan, sedangkan laki-laki tidak turut serta kecuali beberapa orang pembantu untuk mengangkat bahan bawaan.

Setelah siap semua berangkatlah rombongan menuju ke rumah menantu. Di rumah tersebut sudah menunggu beberapa orang patut dalam keluarga yang bersangkutan. Setibanya rombongan, mereka dijemput oleh seorang penyambut untuk dipersilahkan masuk ke rumah. Mereka langsung dibawa ke seoramo keue (serambi muka) dan pihak keluarga dara baro berada di seuramo likot (serambi belakang).

Bahan-bahan yang dibawa tadi diberikan oleh salah seorang dari rombongan kepada salah seorang pihak dara baro lalu dibawa ke seuramo likot untuk diperlihatkan kepada keluarganya. Kemudian bahan-bahan itu dibuka untuk dimakan bersama-sama. Pihak rombongan makan di seuramo keue dan pihak dara baro di seuramo likot.

Setelah selesai acara makan dara baro menjumapai mertua serta rombongan untuk mohon maaf dan meminta doa restu dengan bersalaman dengan bersujud pada mertua dan ibu kandungnya serta seluruh peserta upacara. Acara selanjutnya mertua menyerahkan menantunya kepada bidien yang kemuadian diterima oleh bidien. Penyerahaan ini diiringi oleh kata-kata dari yang meyerahkan dan dibalas pula oleh yang menerima.

Dari urain diatas bisa kita ambil pelajaran bahwasanya pengorbanan seorang ibu dalam melahirkan anaknya bukanlah pekerjaan mudah, hal ini tercermin saat dara baro meminta maaf kepada orangtua dan mertuanya. Semoga kita tegolong dalam orang-orang yang berbakti kepada kedua orang tua.