Rimbunan hutan menemani hampir sepanjang perjalanan ditambah hujan deras dan jalan yang sempit plus dihimpit oleh bukit rawan longsor dan jurang yang terjal  membuat hati sedikit gundah diperjalanan.  Namun semua ini dipatahkan oleh semangat yang kuat untuk saling berbagi, melakukan transfer ilmu pengetahuan kepada teman-teman lain. Perjalanan ini dilakukan dalam rangka pelatihan menulis, blogging dan perkenalan situs acehpedia.org di Kabupten Aceh Barat Daya.
Berangkat dari Banda Aceh jam ± 11.00  pada hari Juma’t, singgah di Sare untuk shalat Zuhur dan makan siang dilanjutkan menuju Beureunun. Sesampai di Sigli menyempatkan diri untuk beli Ranub Mameh (sirih manis) kesukaan Adikcilak. Tak lama disana langsung tanjap gas karena Tengku Muda sudah menunggu lama di Lamloe dengan salah satu blogger wilayah Tangse, Pak Syukri.
Namun perjalanan ini terpaksa dihentikan sebentar di Beureuenun untuk membeli keperluan perbaikan kecil kendaraan, Tanpa berlama-lama perjalanan dilanjutkan menuju Lamloe untuk menjemput Tengku Muda dan memperbaiki kaca spion yang rusak. Mobil yang dirental ternyata tidak sesuai harapan, kaca spion rusak, AC tidak berjalan dan yang paling parah tidak ada radionya. Sungguk menyiksa melakukan perjalanan jauh tanpa ditemani musik. Oh donya…..
Selesai perbaiki kaca spion dan diskusi sedikit dengam Pak Syukri, tancap gas menuju kota selanjutnya. Hamparan sawah sepanjang perjalan dari Lamlo-Keumala-Tangse membuat saya tercengang. Belum pernah saya lihat hamparan sawah yang beitu luas dikiri-kanan jalan sebelumnya, sungguh pemandangan yang luar biasa bagi saya.
Sesampai di Tangse kami sempat berhenti sebentar untuk mengambil foto dengan latar hamparan sawah yang luas dan perbukitan mehimpitnya, awan biru dan sungai menambah keindahan Tangse dilihat dari atas bukit. Kami sempat berandai-anda untuk mendirikan villa disana apabila bisnis kami berjalan lancar. Ada juga kelakar dari teman-teman yang ditujukan kepada saya untuk mencari calon pedamping hidup dari Tangse, untuk hal ini memang dari jauh-jauh hari sudah dipikirkan, ada rekomendasi? hahaha.
20 Menit lebih sudah berjalan namun masih saja ingin berlama-lama, tapi waktu yang mepet terpaksa kami tinggal pemandangan yang baitu indah menuju kota selanjutnya Geumpang. Namun dasar menusia yang tidak bisa melihat hal-hal baru, ditengah perjalanan kami kembali berhenti untuk sekedar mencoba jembatan tali. Jembatan tali terletak antara 2 pinngir sungai yang digunakan penduduk setempat untuk menyebrang.
Kami mencoba menaikinya sambil foto-foto. Dasar kawan-kawan usil, selagi saya naik mereka mengayun-ayun dengan kencang membuat saya hampir manangis ketakutan, meraka tertawa lepas senang melihat penderitaan saya. Setelah puas menaiki jembatan tali, perjalananpun dilanjutkan. Geumpang menajadi termapt singgah berikutnya untuk shalat Ashar.
Setelah selesai shalat kami mencari makanan ringan untuk membunuh suntuk dan rasa pahit dimulut. Pas dipen mesjid ada gadis  yang menjual pisang goreng, tanpa buang-buang waktu kami mulai melahap pisang goreng ditengah-tengah hutan dengan cuaca hujab rintik-rintik, sungguh enak.  Perjalanan masih panjang, tunggu kelanjutan artkel ini.
Ranuh Mameh Sigli

Ranuh Mameh Sigli

Rimbunan hutan menemani hampir sepanjang perjalanan ditambah hujan deras dan jalan yang sempit plus dihimpit oleh bukit rawan longsor dan jurang yang terjal  membuat hati sedikit gundah diperjalanan.  Namun semua ini dipatahkan oleh semangat yang kuat untuk saling berbagi, melakukan transfer ilmu pengetahuan kepada teman-teman lain. Perjalanan ini dilakukan dalam rangka pelatihan menulis, blogging dan perkenalan situs acehpedia.org di Kabupten Aceh Barat Daya.

Berangkat dari Banda Aceh jam ± 11.00  pada hari Juma’t, singgah di Sare untuk shalat Zuhur dan makan siang dilanjutkan menuju Beureunun. Sesampai di Sigli menyempatkan diri untuk beli Ranub Mameh (sirih manis) kesukaan Adikcilak. Tak lama disana langsung tanjap gas karena Tengku Muda sudah menunggu lama di Lamloe dengan salah satu blogger wilayah Tangse, Pak Syukri.

Namun perjalanan ini terpaksa dihentikan sebentar di Beureuenun untuk membeli keperluan perbaikan kecil kendaraan, Tanpa berlama-lama perjalanan dilanjutkan menuju Lamloe untuk menjemput Tengku Muda dan memperbaiki kaca spion yang rusak. Mobil yang dirental ternyata tidak sesuai harapan, kaca spion rusak, AC tidak berjalan dan yang paling parah tidak ada radionya. Sungguk menyiksa melakukan perjalanan jauh tanpa ditemani musik. Oh donya…..

Selesai perbaiki kaca spion dan diskusi sedikit dengam Pak Syukri, tancap gas menuju kota selanjutnya. Hamparan sawah sepanjang perjalan dari Lamlo-Keumala-Tangse membuat saya tercengang. Belum pernah saya lihat hamparan sawah yang beitu luas dikiri-kanan jalan sebelumnya, sungguh pemandangan yang luar biasa bagi saya.

IMG_2826Sesampai di Tangse kami sempat berhenti sebentar untuk mengambil foto dengan latar hamparan sawah yang luas dan perbukitan mehimpitnya, awan biru dan sungai menambah keindahan Tangse dilihat dari atas bukit. Kami sempat berandai-anda untuk mendirikan villa disana apabila bisnis kami berjalan lancar. Ada juga kelakar dari teman-teman yang ditujukan kepada saya untuk mencari calon pedamping hidup dari Tangse, untuk hal ini memang dari jauh-jauh hari sudah dipikirkan, ada rekomendasi? hahaha.

20 Menit lebih sudah berjalan namun masih saja ingin berlama-lama, tapi waktu yang mepet terpaksa kami tinggal pemandangan yang baitu indah menuju kota selanjutnya Geumpang. Namun dasar menusia yang tidak bisa melihat hal-hal baru, ditengah perjalanan kami kembali berhenti untuk sekedar mencoba jembatan tali. Jembatan tali terletak antara 2 pinngir sungai yang digunakan penduduk setempat untuk menyebrang.

Kami mencoba menaikinya sambil foto-foto. Dasar kawan-kawan usil, selagi saya naik mereka mengayun-ayun dengan kencang membuat saya hampir manangis ketakutan, meraka tertawa lepas senang melihat penderitaan saya. Setelah puas menaiki jembatan tali, perjalananpun dilanjutkan. Geumpang menajadi termapt singgah berikutnya untuk shalat Ashar.

Setelah selesai shalat kami mencari makanan ringan untuk membunuh suntuk dan rasa pahit dimulut. Pas dipen mesjid ada gadis  yang menjual pisang goreng, tanpa buang-buang waktu kami mulai melahap pisang goreng ditengah-tengah hutan dengan cuaca hujab rintik-rintik, sungguh enak.  Perjalanan masih panjang, tunggu kelanjutan artkel ini.