img_5835Selasa menjadi hari keramaian (peukan) di kecamatan Gandapura, banyak masyarakat yang berbelanja pada hari tersebut namun bukan berarti hari-hari lain masyarakat tidak kepasar. Hari peukan menjadi suatu tradisi di sebagian daerah, misalnya kecamatan Sawang  hari peukan diadakan pada hari Rabu, Nisam hari kamis dan lainya.

Hiruk pikuk pasar pada hari peukan yang menjual berbagai macam kebutuhan masyarakat ini pula yang mendorong banyaknya pembeli pada hari tersebut. Masyarakat pedalaman biasanya akan turun berbelanja pada hari peukan untuk kebutuhan selama satu minggu sampai hari peukan selanjutnya.

Nyoe keubeu endok, yum jih 14 juta 800 ribu rupiah, lon peubloe karena peureule peng. Keubeu nyo biasa jih dipakek untuk menundoek di glee untuk peutren-peutren kaye. kata Hasan pada saya.

Macam-macam kebutuhan yang dijual di hari peukan antara lain, ikan asin, baju, sepeda, sepeda motor bekas, bumbu dapur sampai hewan ternak (kambing, biri-biri, kerbau dan lembu).
img_5827

Hewan ternak menjadi andalan di hari peukan pasar Gandapura, dimana kecamatan Gandapura atau lebih dikenal dengan Gurugok ini terkenal dengan gang leumo (pasar lembu) nya dan pada dasarnya dikecamatan tersebut peternak lembu, kerbau, kambing dan biri-biri cukup banyak. Hal ini dipengaruhi oleh masih luasnya lahan kosong sebagai tempat mengembala lembu.

img_5849Gang leomo yang terletak di kaki bukit (gle kuprai) dengan jarak berkisar 100 meter lebih dari pusat pasar sekilas  tampak  sangat sederhana, dimana para penjual dan pembeli bertemu untuk transaksi bisnis tanpa suatu bangunan khusus kecuali tempat para pedangang makanan dan minuman. Lembu, kerbau, kambing dan biri-biri yang akan dijual diikat pada pohon atau akar-akar kayu serta kayu yang dipancang di tanah.

Walau tanpa bangunan yang layak nya sebuah pasar hewan, namun nilai transaksi bisnis disini diperkirakan mencapai 1 miliar rupiah lebih dalam satu hari. Jumlah lembu yang diperjual belikan mencapai 1000 ekor lebih dengan harga kisaran 4-15 juta ditambang lagi kambing, kerbau dan biri-biri.

img_5826Hewan ternak yang diperdagangkan disini bukan saja berasal dari kecamatan Gandapura, namun ada  juga yang didatangkan dari kecamatan-kecamatan tetannga di kabupaten Bireuen dan Aceh Utara.

Deretan mobil pick up parkir berjejer menunggu sore hari dimana transaksi jual beli akan berakhir siap mengantarkan hewan-hewan tersebut ketempat pemilik baru atau kembali ke weu leumo (kandang lembu) karena tidak laku terjual pada hari tersebut.

Geliat perekonomian pada gang leumoe ini pada saat konflik di Aceh berkecamuk tidak terhenti, transaksi jual beli berlangsung seperti biasa  walau tidak seramai saat ini. Gang leumoe ini keberadaanya sudah sangat lama namun tidak ada  yang tahu pasti kapan awal permulaan nya.

Senyum kegembiraan terlihat di raut wajah pera peternak saat pulang dengan sejumlah uang yang sangat besar menurut mereka, mungkin inilah raut wajah kemenanga setelah berbulan-buan menunggu bahkan ada yang sampai 2 tahun lebih mengembala. Bagi mereka para peternak uang yang mereka dapatkan dari peluh keringat sangatlah berarti, namu bagi orang-orang yang mendapatkan uang dengan cara expres pasti lain ceritanya. Anda tertarik memelihara lembu? berkunjuglah ke gang leumo gurugok.

*Note : catatan pulang kampung*