Peh Batee

Disetiap daerah tentunya memiliki permainan khas atau yang lebih dikenal dengan permainan rakyat, Gasing dalam masyarakat Melayu, Galo-galo dari Maluku, Massaung Manuk dari Sulawesi Selatan dan Peh Batee (domino) dalam dalam masyarakat Aceh. Permainan Peh Batee ini sebenarnya merupakan permainan domino yang 

biasa dimainkan oleh masyarakat Indonesia pada umumnya dan cara bermainya juga sama, namun demikian di Aceh kartu domino akan berbeda dari segi bentuknya yaitu terbuat dari plastik tebal yang keras.

Peh Batee yang digandrungi oleh sebagian masyarakat Aceh dari berbagai tingkatan usia pada dasarnya tidak begitu bebas bisa dimainkan di Aceh karena ada desa-desa tertentu yang melarang permainan ini, hal tersebut lebih kepada kekhawatiran dijadikan arena untuk berjudi, namun tak sedikit juga peh batee diperbolehkan. Permainan ini biasa dilakukan di pos-pos jaga atau warung kopi yang jumlah nya mengalahkan banyaknya mesjid dan sekolah disetiap desa. 

img_4102

Seiring berlangsungnya Pemilihan Umum (Pemilu) Muspika Aceh memberlakukan suatu aturan yang mengharuskan seluruh kaum Adam yang telah berumur 17  tahun atau tidak bersekolah lagi wajib ikut ronda malam yang dibagi dalam beberapa regu disetiap desa atau dusun. Hal ini pula yang memicu peh batee semakin bebas dimainkan dengan dalih menghilangkan rasa kantuk atau suntuk saat giliran ronda. Tapi jangan harap yang nongkrong di pos ronda hanyalah anggota siskamling yang mendapatkan giliran ronda pada malam tersebut saja yang mangkal di jambo jaga (pos jaga) jika peh batee dimainkan, pasti akan ramee tentunya oleh para maniak peh batee.

Masa Darurat Militer

Saat Aceh dilanda konflik dengan diberlakukannya darurat militer dan disusul darurat sipil dan berakhir tertib sipil diberlakukan sebelum MoU Helsinki ditandatangin 15 Agustus 2005 silam, di Aceh peh batee sangat jarang bisa dimainkan karena aparat melarang permainan ini dengan dalih bisa membuat anggota siskamling lalai melaksanalan tugasnya, dan kalau aturan ini dilanggar maka hukuman nya adalah berendam dalam bak wudhu (kullah dalam bahasa aceh) dari malam sampai subuh atau merayap dalam parit (got) atau kenak popor dan laras sepatu yang dibeli dari pajak rakyat.

Peh batee pada masa konflik Aceh berkecamuk dengan dahsyat hampir saja hilang dari peredaran, peh batee hanya dilakukan oleh segelintir mahasiswa dikantin-kantin kampus atau rumah kost di kota-kota yang itensitas konflik tidak begitu berat. Peh batee juga dilarang oleh GAM pada saat itu, sehingga masyarakat Aceh benar-benar tidak ada pilihan lain selain menguburkan dalam-dalam hobinya yang legal menurut UU tapi menjadi illegal didepan pihak bertikai, tapi entahlah itu semua telah berlalu dan tak perlu diungkit-ungkit lagi.

Setelah MoU ditandatangi oleh para pihak yang bertikai di eropa nan jauh disana, rakyat Aceh merasakan kedamaian yang luar biasa, melebihi kedamaian yang dipatkan oleh para turis yang berlibur ke pulau-pulau terpencil. Bagaimana tidak, sebelumnya saban hari suara letupan senjata menyalak, derap sepatu laras menggema, gesekan besi saat senjata dikokang dari AK -47 atau SS-1 dan M-16 dan jeritan haru biru para korban menjadi hal yang sangat menakutkan, peh batee seakan menjadi pelipurlara dalam derita berkempanjang yang tak tertahankan. Kebebasan kembali menjadi milik rakyat yang selama ini terjepit oleh para pelaku konflik termasuk kebebasan peh batee didalamnya.

Masa Damee

Proses rehabilitasi dan rekonstruksi yang ditambah dengan proses reintegrasi sungguh melelahkan bagi masyarakat Aceh walau itu semua belum selesai, namun kita sudah boleh manarik nafas sejenak karena proses tersebut hampir rampung walau masih compang-camping disana-sini, itu menjadi hal lumrah kalau kita mau melihat ketiga proses itu kenapa dilakukan di bumi Serambi Mekkah. Konflik menghasilkan reintegrasi sedangkan gempa dan tsunami akhir 2004 silam menghasil rehabilitasi dan rekonstriksi, sungguh berat proses ini.

Apa hubunganya peh batee dengan dengan ketigas proses tersebut? memang tidak ada hubungan secara langsung tapi ada keterikatan secara tidak langsung kenapa peh batee semakin marak akhir-akhir ini. Ketiga proses tersebut telah membawa orang-orang asing dengan jumlah yang banyak ke Aceh sehingga kesewenangan dari sisa pertikaian semakin mereda dan tentunya membawa efek kepada kebebasan peh batee juga, silahkan dicerna sendiri.

Pergesekan antar partai politk peserta pemilu yang begitu kentara yang membuat suhu politik semakin memanas tidak berimbas sama sekali di meja peh batee, kerena permainan ini sendiri menganut sistem persahabatan dan permusuhan sesaat sebagaimana diucpakan oleh Niccolo Machievalli, “Tak ada kawan atau lawan abadi, yang ada hanya kepentingan sejati.”, begitulah peh bate, kadang menjadi kawan dan sebentar saja sudah berubah menjadi teman.

Cara Bermain

img_4106Permainan peh bate sangatlah mudah dan bisa dimainkan oleh siapa saja, bagaimana tidak, permainan ini hanya menyatukan angka-angka yang sama seperti 2 dengan 2, 1 dengan 1 dan seterusnya. Permainan peh bate mengenal angka 0 sampai dengan 6 dimana 0/0 sampai 6/6 yang berjumlah 28. Permainan peh batee sendiri sebenarnya menganut teori kemungkinan/peluang (Teori probabilitas). Probabilitas didenifisikan sebagai bagian dimana pembilangnya adalah jumlah kejadian yang diharapkan dan penyebutnya adalah jumlah dari kejadian yang mungkin terjadi.  

Teori ini akan sangat rumit apabila diimplementasikan dalam permainan peh batee kerena kemungkinan yang akan terjadi sangat banyak sehingga membutuhkan logika tinggi untuk memecahkanya, oleh karena itupula permainan peh bate menjadi tantangan tersebdiri bagi pemainya. Apakah ini menjadi suatu indikator bahwa siapa yang suka bermain peh batee pandai matematik? tapi setidaknya setiap pemain batu pandai dalam berhitung, karena setiap selesai satu game pasti akan ada hitung-hitungan nya, entahlah. (masih berlanjut)