NAD Tsunami Museum

Di penghujung tahun 2004, Aceh digoyang gempa dahsyat sebelum kemudian digulung tsunami. Pantai Barat Aceh—dari Simeulue, Meulaboh sampai Banda Aceh dan sebagian Sigli—mengalami kerusakan parah. Sekitar 170 ribu jiwa melayang seketika. Dunia tercengang ketika itu. 

Desakan internasional memaksa pemerintah Indonesia membuka isolasi politik akibat konflik bersenjata yang panjang di Aceh. Tidak lama kemudian, berbondong-bondong orang dari ujung Indonesia dan dunia datang ke Aceh untuk melihat dampak kerusakan akibat tsunami, serta memberikan bantuan kepada masyarakatnya. Mantan Secretary of State AS Collin Powell yang datang beberapa hari setelah tsunami menyatakan dia belum pernah melihat kehancuran seperti yang terjadi di Aceh.

Tampak Didalam NAD Tsunami MuseumNamun, tsunami yang membawa kepiluan itu juga membawa berkah tersendiri bagi Aceh. Para pihak yang bertikai di Aceh setuju untuk meletakkan senjata dan berdamai melalui penandatanganan MoU Helsinki pada tanggal 15 Agustus 2005.

Perdamaian, membuat proyek rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh yang saat itu telah dimulai BRR, bergerak semakin cepat. Ribuan kilometer jalan yang rusak, rumah-rumah, dan berbagai fasilitas umum lainnya yang luluh lantak berhasil dibangun kembali. Di beberapa tempat, wajah Aceh bahkan menjadi lebih cantik dari sebelum terjadinya tsunami.

Semangat rekonstruksi yang menggebu-gebu, sayangnya melibas hampir semua jejak tsunami di Aceh. Kondisi Aceh hari ini, hampir tidak ada bedanya dengan kota-kota lain di Indonesia. Orang yang baru datang ke Aceh mungkin akan kesulitan membayangkan dampak kerusakan akibat tsunami yang terjadi hampir lima tahun silam itu. Pemerintah daerah tidak punya sensitivitas untuk mempertahankan situs-situs bekas tsunami yang cukup monumental sebagai bahan pembelajaran bagi generasi mendatang agar lebih bijak dalam mengelola alam dan tidak congkak dalam menjalankan kekuasaan. 

museumtsunamiaceh-exterior3

Upaya BRR menggelar sayembara disain arsitek museum tsunami tahun 2007 lalu patut dihargai. Lomba yang diikuti 69 peserta itu akhirnya dimenangkan oleh M Insan Kamil, dosen arsitektur ITB. Atas dasar disain Kamil itulah, tidak lama kemudian dibangun museum tsunami di atas tanah 10 ribu meter persegi. Gedung empat lantai yang terletak bersebelahan dengan kompleks pemakaman Belanda Pocut Kerkoff dan menghadap lapangan Blang Padang, Banda 

Aceh ini menelan biaya Rp 67,9 miliar. Bangunan itu dapat diselesaikan pada bulan Februari 2009. Presiden SBY datang langsung untuk meresmikan museum itu pada tanggal 23 Februari lalu. 

thailand tsunami memorial museumMuseum tsunami pantas menjadi kebanggaan Aceh dan juga Indonesia. Pasalnya tidak banyak museum sejenis di dunia. Museum lain yang cukup lengkap adalah Pacific Tsunami Museum di Hilo, Hawaii dan satu lagi yang lebih sederhana di Khao Lak, Thailand. 

Museum tsunami di Aceh, kabarnya juga terhubung dengan pusat penelitian tsunami di AS dan Jepang. Selain itu, museum tsunami Aceh ditata sedemikian rupa sehingga pengunjung bisa membayangkan seolah berjalan di antara celah air, disamping juga bisa melihat foto-foto korban, kisah-kisah mereka yang selamat, serta simulasi elektronik gempa di bawah laut yang menyebabkan munculnya gelombang setinggi 30 meter. 

Berbagai daya tarik yang ditawarkan museum tsunami itu, wajar saja membuat banyak orang terpanggil untuk mengunjunginya. Termasuk menarik perhatian istri dan mertuaku yang sedang berada di Aceh. Satu hari setelah peresmian oleh Presiden SBY, mereka datang mengunjungi museum. Namun sayang waktu itu museum tutup. Saya pikir wajar karena baru diresmikan. Seminggu kemudian kami coba datang lagi, kondisinya masih sama. Dua minggu kemudian, museum belum juga dibuka untuk publik. Orang lain juga harus gigit jari karena tidak bisa masuk ke dalam gedung museum yang megah itu. Mereka hanya boleh duduk-duduk di lantai dasar bangunan, berupa ruang terbuka yang di tengahnya berisi kolam ikan mas. 

Terakhir tanggal 29 Maret lalu saya, istri, dan anakku kembali ke museum itu lagi. Ternyata sudah ada perubahan sekarang! Di tiang bagian luar bangunan itu kini terpampang tulisan besar dengan tinta hitam dalam kertas karton warna oranye yang dilaminating. Bunyinya: “Dilarang Masuk Kecuali Ada Ijin.” Selain itu, kolam ikan mas yang terletak di lantai bawah gedung museum itu pun kini makin penuh dengan sampah. 

Fantastis! Museum seharga miliaran rupiah itu kini telah menjadi tempat sampah yang besar. Hebatnya lagi, untuk memasukinya harus dapat ijin pula. Luar biasa.

Banda Aceh, 30 Maret 2009

Ditulis oleh: Dadang Budiana🙂