Pemilu Legislatif 2009 tinggal menghitung hari saja, hari pencontrengan menjadi hari libur nasional pada Kamis, 9 April 2009. Kampanye secara terbuka memang belum dimulai tapi suhu politik sudah terasa memanas akhir-akhir ini, bendera partai, baliho, spanduk dan umbul-umbul beterbaran di seantero nusantara mulai dari kota sampai pelosok desa, inikah yang dinamakan pesta demokrasi 5 tahun sekali?. ntahlah

Jumlam partai politik peserta pemilu yang begitu banyak membuat saya bingung sendiri memilih partai dan caleg mana yang akan saya contreng nantinya di dalam bilik suara yang meneurut slogannya “Langsung, Umum Bebas dan Rahasia” itu. Hal ini lebih parah lagi khususnya di Aceh yang memiliki 6 partai lokal sebagaimana amanat Mou Helsinki 15 Agustus 2005 dan telah diatur dalam Undang-Undang Pemerintahan Aceh yang lebih dikenal dengan UUPA.

Saya sendiri pernah ditawarkan menjadi caleg oleh salah satu partai lokal tapi saya menolaknya, karena saya tidak ingin terlibat kedalam dunia perpolitikan secara praktis. Saya juga tidak berafliasi kepartai manapun disebabkan oleh keinginan saya menjadi orang yang netral dalam pemilu 2009. Saya memang sering membantu kawan-kawan dari salah satu partai lokal yang dimotori oleh kaum muda Aceh tapi itu semuanya sebatas membantu kawan seperti desain iklan, spanduk dan pembuatan website. Ya, itu semua hanya semata-mata membantu teman.

Uforian para caleg dengan spanduk, poster, baliho, iklan di media cetak, elektronik dan internet kadang-kadang membuat saya jengkel. Hal ini lebih disebabkan oleh cara dan teknik mereka dalam berkampanye terlihat jelas kebohongannya dengan janji-janji palsu. Ada partai yang membawa-bawa nama agama, ada yang mengungkit-ungkit bantuan yang telah diberikan saat tsunami seperti terlihat disalah satu spanduk perempatan dekat MAN 1 Banda Aceh “Ingat Tsunami, Ingat Partai ………”, memang benar kata pepatah tak ada makan siang gratis, setelah membantu pada saatnya mereka akan minta imbalannya tentu dalam hal ini imbalanya dalam bentuk suara saat pemilu. Saya pernah hampir jatuh dari sepeda motor gara-gara kena bendera partai yang ditiup angin dan memasuki badan jalan, belum lagi tersenggol dengan tiangnya yang telah jatuh kejalan akibat asal pasang tanpa peduli dengan keselamatan pengguna jalan. 

Pemilu 2009 memang sangat berbeda dengan pemilu-pemilu yang lalu pada cara memilih dari pencoblosan ke pencontrengan. Menurut informasi yang saya dapatkan hal ini desebakan oleh beberapa hal sehingga KPU mengubah cara memilih salah satunya yaitu masalah jual beli suara di TPS. Ceritanya begini, pada pemilu 2004 lalu pernah ditemukan kasus surat suara yang tidak dicoblos oleh pemilih dengan alasan tertentu tapi dicoblos menggunakan kuku oleh petugas TPS dan hasilnya dijual kepada partai setelah terlebih dahulu melakukan deal-dealnya. Satu lagi alasan adalah yang menurut saya licik, dimana paku sebagai alat mencoblos dijadilakan lahan korupsi. Paku yang kalau per kilo seharga Rp. 10.000 tapi pada prakteknya sipembeli membuat membelinya perbuah dengan nominal Rp. 2.000 tentunya akan lebih mahal. Ada-ada saja cara melalukan markup harga. capek deh…

Kita semua berharap pemilu 2009 berlangsung damai dengan menghasilkan anggota dewan terhormat berkualitas sesua harapan kita semua yaitu memikirkan rakyat bukan kroni-kroninya saja, karena meraka wakil rakyat, bukan wakil kroni-kroninya saja. Semoga.

Note: Judul dan photo dengan tulisannya memang tidak ada hubungan sama sekali