Hari-hari yang kulalui kadang menyenangkan tapi tak jarang pula sangat menyebalkan. Rutinitas kerja yang kadang-kadang menoton membuat kreatifitas berkurang sehingga ide-ide sulit tersalurkan membuat aku kadang-kadang merasa jenuh dan rasanya ingin berteriak sekeras-kerasnya biar orang tahu bahwa hatiku sedang berontak, Yah… itu semua kadang-kadang.

Aktifitas kantor yang begitu padat membuat aku sering lupa makan siang, tugas yang menumpuk sering membuat aku bingung mau menyelesaikan yang mana terlebih dulu, aku memang tidak bisa menentuka skala prioritas, itu salah satu kelemahanku yang aku lihat dari hasil evaluasi staff dikantor tempat aku mecari sesuap nasi, segenggam berlian. ha..ha

Selesai jam kantor aku sering tidak langsung pulang kerumah tapi keluar minum kopi dengan teman-teman dari komunitas, hal ini lebih disebabkan faktor pria lajang yang tinggal di kos-kosan. Ya aku memang pria lajang yang jomblo lagi kata teman-teman, tapi aku gak peduli akan hal itu karena aku merasa happy dengan statusku saat ini walau sekali-kali kesunyian juga menyelimuti.

Aku tinggal satu rumah berdua dengan keponakan aku yang masih kuliah. Kami beda disiplin ilmu yang mebuat kami sering perang urat saraf dirumah, kami sering perang mulut hanya gara-gara saling mengaku ilmunya lebih dibutuhkan oleh umat manusia, tak jarang kami juga berdebat tentang organisasi-organisasi kami yang berbeda. Suatu ketika aku menanyakan obat mana yang cocok diminum karena aku menderita demam, tapi jawaban yang aku dapat adalah istilah-istilah medis yang keluar dari mulutnya yang aku sendiri tak mengerti dan tidak mau tahu, lalu aku katakan tunjukkan saja mana obat yang harus diminum, aku tidak butuh penjelasan dan istilah-istilahnya, sungguh menyebalkan memang bagi aku yang berwatak to do point saja. Kadang dia selalu saja mengingatkan aku akan bahaya asap rokok, tapi aku tak peduli, kalau dia ceramah akan bahaya asap rokok sering aku jawab “kalau nantinya tak ada orang merokok maka semakin sedikit pasien yang berobat kedokter yang berakibat jumlah pemasukan dokter semakin berkurang dari hasil usaha tempat prakteknya”. Hal ini memang aku yang sudah gila rokok, aku sadar akan bahaya asap rokok, tapi aku tak bisa berhenti, ntah kenapa!

Dilain waktu koneksi internet mengulah yang membuat aku harus tutup kuping rapat-rapat agar omelan dari keponakan ku tak terdengar. Setiap koneksi interner tak bagus selalu saja dia katakan “Apa juga lulasan Manajemen Informatika, itu saja tidak bisa, apa harus anak kedokteran yang turun tangan?”, aku sering mengelak dengan alasan keterbatasan akses, tidak mungkin aku bisa masuk ke sistem telkomsel sebagai penyedia layanan internet kami lewat produk flash nya. Aku kalah kalau hal ini terjadi, aku hanya bisa tutup kuping atau menyetel musik keras-keras agar suara omelannya tak terdengar. Koneksi Flash Unlimited dari telkomsel kami share untuk dua laptop dirumah menggunakan kabel LAN, ada kalanya bermasalah di kabel LAN yang mebuat aku harus menahan malu saat diejek ama mahasiswa yang satu ini. huh…..

Kami memang sering perang mulut, tapi tak jarang kami juga sering mendapatkan kesimpulan dari diskusi-dikusi kami pada topik-topik tertentu. Diluar itu semua hal yang paling membuat aku jengkel pada keponakana ku adalah saat-saat dia menanyakan aku kapan nikah, aku sering menjawab “itu bukan irusan mu, kamu disini hanya bertugas mencari dua huruf dibelakang nama kamu yaitu d dan r atau dr, itu saja tak perlu engkau pikirkan yang lain”, ha….ha, dia diam dan pergi biasanya karena dia tau aku kesal akan pertanyaan itu.

Aku memang orang yang tak sabar, dan maunya buru-buru saja, segala sesuatu maunya saat ini juga. Hal ini dipengaruhi sedikit banyak oleh disiplin ilmu aku yang menuntut berpikir logis dengan perhitungan matematis yang rumit membuat aku gila. Sebaris bahasa pemograman yang dimengerti mesin harus kupahami agar aku bisa bekerja untuk menyelesaikan tugas membuat aku tak susah tidur semalaman memikirkanya. Itulah konsekwensi dari ilmu yang kudalami.

Itulah cerita sekelumit kehidupan seorang pemuda lajang yang hidup ditengah-tengah pergesekan nilai-nilai budaya dan moral. Semoga aku tetap bisa mempertahankan nilai-nilai budaya luhur endatu yang telah tertanam dijiwaku. Amin…