Prosesi serah terima bantuan

Prosesi serah terima bantuan

Sabtu, 21 Februari 2009 jam 12.15 WNAD proses belanja selesai dengan dilanjutkan dengan mengantar bantuan menggunakan becak mesin dua trip, proses mengantar barang membutuhkan waktu lebih kurang 30 menit karena letak tempat kami berbelanja dengan lokasi kamp hanya berpaut 1 KM. Setelah barang bantuan sampai semua kami harus menunggu lagi karena para pengungsi sedang melaksanakan shalat Zuhur, kami sengaja menunggu mereka selesai melaksanakan shalat dan doa bersama.

Selesai mereka shalat panitia memanggil beberapa orang pungungsi untuk menyaksikan proses serah terima bantuan masyarakat Aceh yang dikumpulkan oleh Aceh Blogger Community, Aceh Linux Activist (KPLI-Aceh) dan turut dibantu oleh kawan-kawan dari Komunitas Teknologi Informasi, Akademi Manajeman Informatika dan Komputer Indonesia (KTI-AMIKI). Kami lagi-lagi harus menunggu karena ketua panitia yang sekaligus camat Idi Rayeuk sedang menelpon, lama kami menunggu pak camat tak selesai juga menelpon, mungkin ada bisnis penting, entahlah.

Koordinator lapangan yang berada ditempat beberapa kali memberitahukan kepada pak camat akan hal ini, tapi tak pak camat hanya mengangkat tangan saja tanda isyarat tunggu sebentar. Untuk ketiga kali korlap memanggil pak camat yang akhirnya dari mulut pak camat keluar kata-kata diwakilkan saja. Ah dalam hati saya kenapa tidak ngomong dari tadi…., Tanpa menunggu lama saya pun mengangkat satu kardus biskuit unibis yang telah ditempel kertas bertuliskan “Bantuan Masyarakat Aceh Melalui Aceh Blogger Dan KPLI Aceh”. Saya dan korlap berjabat tangan sebagai pertanda serah terima bantuan selesai dilaksanakan yang turut di abadikan oleh Idrus dan relawan dari CMC dan PCC.

Kondisi kamp penampungan

Kondisi kamp penampungan

Selesai serah terima bantuan kami meminta ijin untuk kembali bisa masuk ke lokasi pengungsian yang telah diberi pembatas dengan garis polisi (police line) berwarna kuning. Ijin diberikan dan kami bergerak menuju kamp yang telah tertata rapi, ada beberapa tenda bantuan dari ICRC telah terpasang dan telah ditempati oleh pengungsi.

Kondisi Kamp

Secara umum kondisi tempat penampungan pengungsi rohingnya sudah sangat memadai, yang ditandai dengan adanya fasilatas standard kamp seperti dapur, MCK dan pos kesehatan. Pengungsi dibagi dalam beberapa kelompok dan masing-masing kelompok menempati satu tenda yang diisi oleh 7-10 pengungsi. Kondisi tenda sudah layak huni tapi sayang belum ada alas tidur yang memadai, alas baru tersedia terpal kertas yang tipis. Dapur umum berfungsi dengan baik, kami sempat melihat proses persiapan makan siang oleh panitia yang dibantu oleh pengungsi sendiri, untuk memasak panitia belum menyerahkan secara keseluruhan kepada pengungsi dengan alasan tertentu.

Pengungsi saat antri makan siang dibawah terik matahari

Pengungsi saat antri makan siang dibawah terik matahari

Pos kesehatan juga sudah cukup layak dengan tersedianya obat-obatan, suster dan tidak lupa sebuah ambulnace standbay. Kondisi MCM masih sangat minim karena belum adanya WC darurat yang dibangun, untuk sementara pengungsi masih menggunakan wc milik kantor camat setempat yang tentunya sangat tidak memadai untuk 198 orang pengungsi.

Fasiltas tenda yang belum memiliki alas tidur memadai

Fasiltas tenda yang belum memiliki alas tidur memadai

Dari sisi sistem managemen kamp saya melihatnya ada beberapa hal yang perlu dibenahi terutama pada saat proses pembagian makan siang. Proses pembagian makan siang yang dilakukan dengan memanggil nama satu persatu dibawah terik matahari tanpa adanya tempat berteduh membuat pengungsi kepanasan yang membuat mereka pada saat makan terasa tidak nyaman. Bayangkan habis dijemur dibawah terik matahari baru kita makan, serasa dipenjara bukan? 

Secara keseluruhan penanganan pengungsi etnik rohingya di Idi Rayeuk sudah bagus, permasalahan ada kekurangan disana-sini itu menjadi hal lain, karena kita manusia ini tidak ada yang sempurna. Kesempurnaan hanya milik Allah Swt. Bantuan untuk kebutuhan mereka masih sangat kurang, hal ini tentunya membutuhkan perhatian kita semua, apakah kita masih peduli atau tidak?

Masyarakat Idi Rayeuk dan sekitarnya sangat peduli dengan nasib pengungsi, mereka siap menampung suadar-saudara seiman ini, tapi regulasi pemerintah sekali lagi mejadi pengahalang disini, apakah pemerintah kita akan bersikap sama dengan pemerintah Thailand? semoga tidak, tapi entahlah, karena ini urusan politik yang tidak saya pahami.

Sisi lain dari pengungsi Rohinya akan saya tulis dilain waktu, jadi jangan lupa kembali lagi pada tulisan berikut :p