Uang yang telah dihitung dan dirapikan siap untuk bertransaksi

Sore tepat 20 Februari kemarin, sekitar jam 18.15 menjelang magrib, saya dan Idrus berdua meninggalkan kota Banda Aceh menuju Idi Rayeuk, Aceh Timur dengan satu tujuan mendistribusikan bantuan dari masyarakat Aceh yang dikumpulkan oleh kawan-kawan Aceh Blogger Community (ABC) dan Aceh Linux Activist (KPLI-Aceh) dalam aksi turun kejalan selama 3 hari. Perjalanan ini sendiri menggunakan sepeda motor dengan jarak tempuh 350 KM lebih dan memakan waktu 9 jam dengan kecepatan rata-rata 80KM/Jam.

Perjalanan dimalam hari sempat membuat saya sedikit was-was selama perjalanan, Bagimana tidak kondisi keamanan sedikit rawan menjelang pemilu 2009 di Aceh. Kami Shalat Magrib di sekitar Indrapuri, walau sedikit telat tapi InsyaAllah kewajiban terlaksana juga. Setelah Shalat perjalan kami lanjutkan dan mengisi bensin di Saree. Dengan kecepatan rendah kami lanjutkan perjalanan untuk makan malam dan Shalat Insya di Saree tapi pada lokasi yang berbeda yaitu di kawasan gajah kata orang-orang.

Rute ketiga yang kami tempuh lumayan jauh, dari Saree baru berhenti sebentar di Beureuenun untuk beli sarung tangan gara-gara kedinginan yang tak tertahankan. Tak lama kami di Beureunun lansung tancap gas dan transit di Matang Glumpang Dua sambil menikmati segelas teh hangat. perjalanan kami lanjutkan walau terasa tak sanggup lagi, mata terasa perih karena kaca penutup helm harus dibuka agar jalanan tampak jelas, hal ini juga mempengaruhi laju kecepatan kami, belum lagi binatang kecil yang berterbangan disepanjang jalan. Berat memang perjalanan malam hari, tapi semangat kami tak kendur untuk segera bertemu dengan saudara-saudara kami.

Barang bantuan Masyaraka Aceh Melalui ABC dan KPLI untuk pegungsi Rohingay Idi Rayeuk

Barang bantuan Masyaraka Aceh Melalui ABC dan KPLI untuk pegungsi Rohingay Idi Rayeuk

Kami lanjutkan perjalanan dengan tujuan kota berikutnya yaitu Lhokseumawe, kami telah merencanakan perjalanan malam ini hanya sampai Lhokseumawe saja dan kami pun mencari tempat penginapan, setelah nego harga dengan penjaga wisma dan kami sepakat, tanpa berlama-lama langsung masuk kamar dan membaringkan badan di tempat tidur. Istirahat sejenak lalu saya mandi walau sudah jam 1 malam, dingin menggigil membuat saya tidak betah berlama-lama dikamar mandi.

Idrus yang sedang berbaring kecapeaan ditempat tidur saya ajak untuk menghitung kembali uang yang kami bawa, sungguh amburadul uangnya, kami coba merapikan sekenanya saja karena kantuk yang tak tertahankan. Saya sempatkan diri untuk online sebentar menggunakan laptop dengan koneksi telkomsel flash, telkomsel memang mantap dengan HSPDA nya. Thanks telkomsel.

Tak terasa sudah pagi hari, kami memang tertidur lelap sampai-sampai Idrus ngomong tak terasa sudah pagi. Mandi pagi terus check out dari wisma kami langsung cari sarapan, sambil sarapan kami sempat menukarkan uang seribuan dengan yang lebih besar dengan harapan sesampai di Idi Rayuek proses belanjanya tidak memakan waktu lama hanya untuk menghitung recehan yang kami bawa (maaf bukan maksud menghina recehannya).

Perjalan Lhokseumawe ke Idi Rayuek memakan waktu 1,5 jam dengan jarak tempuh sekitar 150 KM, waktu tempuh ini lumayan cepat kerena perjalan di siang hari dan kondisi jalan yang tidak begitu padat. saya bisa memacu kendaraan sampai 120 KM lebih perjam. Sesampai di Idi Rayeuk kami menuju ke kantor Children Media Center (CMC-Aceh) yang sudah pernah saya kunjungi sebelumnya saat saya masih bekerja di Aceh People’s Forum (APF) yang kebetulan CMC merupakan mitra dari APF dan tugas saya saat itu adalah memperbaiki sistem TI nya.

Sesampainya disana kami istrirahat sejenak dan langsung menghubungi direkturnya sekaligus kawan saya untuk berkoordinasi tentang langkah-langkah apa yang harus kami lakukan untuk meyalurkan bantuanya. Lama kami menunggu sang kawan tak muncul-muncul, kami berbincang-bincang dengan staf CMC yang saya kenal tentang pengungsi Rohingya, kami mendapatkan informasi banyak masalah penanganan pengungsi yang menurut meraka masih ada hal-hal yang kurang beres. Saya juga mendapatkan informasi bahwasanya ada satu LSM lokal yang fokus dan menempatkan satu staff nya khusus untuk mengadvokasi pengungsi Rohingya yaitu People Crisis enter (PCC-Aceh). Saya hubungi staff PCC dan dia berjanji dalam waktu 30 menit akan tiba di CMC. Waktu 30 menit bagi kami yang sudah penasaran ingin berjumpa dengan saudara-sudara kami sungguhlah lama. Kami langsung menuju ke kamp penampungan dengan ditemani salah satu staff CMC. Kami mendapatkan ijin masuk ke kamp kerena kebutulan staff CMC tersebut juga salah satu panitia kamp.

Kami melihat-lihat sekitar kamp yang tertata rapi lengkap dengan MCK, Dapur umum dan pos kesehatan yang juga dilayani oleh beberapa Ibu-ibu suster, untuk hal ini saya sempat terpikirkan kenapa mesti Ibu-ibu? bukanya gadis-gadis saja. ha..ha..ha dasar bujang lapok. Ada juga beberapa mahasiswa yang mendampingi di kamp, saya sempat menanyakan asal kampus mereka, dari mulut manis mahasiswi kami tahu kalau meraka berasal dari perguruan Getsampena.

Setelah selesai melihat-lihat kami menjumpai Camat Idi Rayeuk yang sekaligus bertindak sebagai ketua panitia kamp. Saya sempat terkejut dengan tanggapan pak camatnya saat memperkenalkan diri bahwasanya kami datang mengantarkan bantuan Masyarakat Aceh yang disalurkan melalu ABC dan KPLI “Sudah banyak yang bertanya kebutuhan mereka, tapi mana bantuanya? kalau mau bantu jangan ngomong saja tapi langsug saja bawa bantuaan nya” sungguh suatu sikap yang tidak bersahabat dan egois terlebih beliu adalah sorang pimpinan di level kecamatan, ah sudah lah tak usah hiraukan mungkin beliu lagi capek atau apalah. Saya tetap saja menanyakan kebutuhan apa yang mendesak saat ini, pak camat menjawab bawa saja sembako, tapi saya coba menawarkan alternatif lain sesui dengan kesepakantan kawan-kawan ABC yaitu tilam tempat tidur, tapi pak camat menjawab kalau kalian bantu itu sangat bagus tapi harus sejumlah mereka, karena kalau tidak cukup panitia tidak bisa membagikanya, meraka akan berebut. saya diam sejenak dan mohon diri.

Kami kembali ke kantor CMC mendikusikan apa yang cocok kami beli dengan uang yang terbatas, dari hasil rembuk maka kami sepakat untuk membeli 4 janis bahan kebutuhan pokok yaitu Kacang hijau, susu, biskuit dan telor. Uang yang sudah setangah rapi kembali kam hitung dibantu oleh relawan CMC dan PCC, setelah selesai kami langsung saja menuju pertokoan Idi Rayeuk untuk membeli bahan makanan yang telah terlist di selembar kertas.

Proses belanja berjalan lancar dan proses pembayaran nya juga hanya memakan waktu sebentar karena recehanya sudah benar-banar rapai, bayangkan recehan seribuan sejumlah 3juta lebih plus uang-uang lain yang nominalnya 5 juta lebih dihitung satu-satu sama tokenya, tentu makan waktu 1 jam. Proses belanja selesai…..Tunggu tulisan selanjutkan.

Note : Makasi Fauzan atas editingya.