Aksi yang kami lakukan memasuki hari kedua, tanpa rasa pamrih kami terus bergerak disudut persimpangan jalan dan terkapar kelelahan dibawah terik matahari sore hari. Itu semua tak membuat kami menyerah, kami akan terus melangkah demi nilai-nilai kemanusian, membantu kaum lemah, membantu mereka yang terusir dari tanah kelahirannya. Cuma satu tekat menyelamatkan kaum rohingya yang di zolimi juta militer Myanmar.

Kami memang sedikit, tapi kami peduli

Awal pagi menjalankan rutinitas¬†seperti biasa, ke kantor mencari sesuap nasi segengam berlian, he..he. Tapi hari ini aku khawatir tidak bisa melakukan aksi di jalanan bersaing dengan pengemis dipersimpangan jalan karena ada agenda kantor yang harus aku ikuti. Aku pasrah….. Pagi terlewatkan, siangpun tiba, setelah selesai menyelesaikan setting beberapa keperluan untuk agenda kantor waktu istirahat telah tiba, aku teringat akan kawan-kawan di jalanan yang berpeluh, tanpa pikir panjang lansung saja tancap gas ke simpang 5 Banda Aceh.

Sesampai disana aksi baru saja berakhir, aku melihat kawan-kawan sedang menghitung jumlah sumbangan yang ada, aku berjumpa dengan kawan-kawan dari Komunutas Teknologi Informasi (KTI) AMIKI, aku salami satu-satu meraka dengan penuh rasa bangga sebagi abang leting melihat adek-adek kelas turun kejalan. Kawan…… rasa sosial Mahasiswa AMIKI masih sama seperti dulu saat-saat aku masih dibangku kuliah, Meraka peduli….

Ternyata yang aku salami masih tak seberapa, info dari korlap (Baiquni, yang rada-rada homo dikit.. ha…ha balas yg dimils) bahwasanya satu group lagi kawan-kawan KTI AMIKI lagi beraksi di Simpang Surabaya Banda Aceh. Aku diskusi sebantar sambil memberi semangat kepada kawan-kawan dan melanjutkan perjalanan menjenguk kawan-kawan di Sp. Surabaya sambil membawa minum buat meraka. Sesampai disana ada sebagian dari mereka sudah beristirahat karena Azan Zuhur sedang berkumandang. Kami bagikan beberapa botol air mineral kepada meraka sambil kusalami dengan penuh rasa takjub. Mereka hentikan aksi pada siang hari, cuaca kota sangat tidak bersahabat, aku melihat muka mereka memerah karena diterpa panas terik matahari, peluh bercucuran tapi meraka tak mengeluh. Kami hitung sumbangan yang diberikan pengguna jalan dan kami serahkan kepada korlap. Meraka pulang……

Kami memang sedikit, tapi kami peduli

Sore hari setela agenda kantor selesai aku segara berangkat kembali ke simpang 5 Banda Aceh, aku melihat kawan-kawan sedang mejalankan aksinya. Tanpa berlama-lama aku langsung bergabung membawa kardus-kardus bekas diantara deru suara mesin, debu dan asap. Ku dekati satu persatu pengguna jalan dengan menyodorkan kotak-kotak amal yang dibalut poster menggugah hati karya kawan-kawan ABC. Aku lelah, berhenti sejanak disudut jalan, tugas ku di gantikan sang ketua KPLI (Alie), aku bersandar ditiang baliho besar, terkapar dalam peluh dan kahausan. Kawan….. “Kami memang sedikit, tapi kami peduli