Polo Aceh merupakan sebuah kecamatan dibawah administrasi Aceh Besar yang terdiri dari dua pulo besar, Polu Breuh dan Pulo Nasi dan menaungi 3 kemukiman yaitu Pulo Breuh Utara dengan 4 desa yaitu Rinon, Alue Raya, Meulingge dan Lapeng, Pulo Breuh Selatan 8 desa yaitu Ulee Paya, Gugop, Seurapong, Blang Situngkoh, Paloh, Lampuyang, Lhok dan Teunom, sedangkan Kemukiman Pulo Nasi terdiri 5 desa yaitu Lam Teng, Pasi janeng, Rabo, Alue Ruyung dan Deudap koordinat berada pada 5.42.00″N dan 95.6.0″E.

Perjalan menuju Pulo Breuh bisa dicapai dengan menumpangi boat yang berlayar dari Lampulo Banda Aceh berkisar pada jam 1.30 – 2.30 dan dari Pulo Aceh menuju Lampulo Banda Aceh akan berangkat pada jam 7.00 – 8.00 (waktunya berangkat adalah kisaran, tidak pasti karena ditentukan oleh faktor jumlah penumpang dan barang). Pelayaran dilakukan 6 hari seminggu, khusus hari jumat boat tidak berlayar karena ada suatu aturan dalam hukum adat laot (laut) Aceh yang melarang  setiap boat untuk berlayar pada hari jumat sampai dengan selesai shalat jumat dilaksanakan. Pelayaran dilayanai oleh 3 boat, tapi hanya ada 1 boat setiap hari yang berlayar, para pemilik boat membuat suatu kesepakan yaitu melakukan jatah berlayar 2 hari setiap 1 boat kerena faktor jumlah penumpang, aturan ini berlaku saat saya melakukan perjalanan ke Pulo Aceh pada awal Februari 2009 dan sampai kapan berakhir, hanya tuhan yang tahu.

Untuk perjalanan ke Pulo Nasi sekarang sudah dilayari oleh Ferry KMP Simeuleu, tapi saya belum tahu pasti jadwal pelayarannya. setahu saya pada hari sabtu pagi ada satu pelayaran.

Transportasi umum di Pulo Aceh bisa dikatakan tidak ada, apabila anda ingin berkunjung kesana bisa saja menyewakan kendaraan milik masyarakt disana, harga besin peliter bervariasi tergantung jarak antara pelabuhan dengan lokasi penujalannya, harga masih berkisar antara 6000 – 7000. Fasilitas Akomodasi juga berlum tersedia, biasanya tamu yang berkunjung yang tidak memiliki sanak saudara atau kenalan di Polu Aceh akan menginap di Mesjid atau Meunasah dengan syarat harus melapor dulu kepada Kepala Desa setempat.

Satu hal yang sangat dibutuhkan oleh para musafir adalah makan dan minum, untuk hal itu Pulo Aceh sudah memilik banyak warung kopi dan kedai-kedai kecil, tapi sayang untuk warung nasi khusus di desa Lampuyang yang menjadi pusat kota hanya memiliki satu warung nasi yang sangat sederhana, tidak ada variasi menu yang ditawarkan. Tapi itu semua tidak menjadi masalah bila dalam diri anda memiliki jiwa petualangan, kerena subuah petualang semakin sulitnyanya alam, makan semakin indah.

Satu hal yang menarik bila anda berada di sana yaitu dalam hal mengingat waktu pada jam 6 sore dan 12 malam. Bila listrik menyala maka itu pertanda sudah jam 6 sore dan bila listrik padam itu berarti sudah jam 12 malam. Masyarakat disana sepertinya tidak perlu menngunakan staklar on/off listrik, karena secara otomastis litrik akan mati dengan sendirnya. ha..ha.

Bagi seorang blogger seperti saya, signal dari provider selular adalah kebutuhan penting. Jangan berharap anda bisa berblogging ria disana, karena dalam urusan ini handphone anda akan sangat sulit menangkap signal yang ditransmisikan dari bts yang ada disabang. tidak disemua tempat ada signal kerana faktor alam yang berbukit-bikut, Lampuyang saja sebagai ibu kota kecamatan belum ada signal, apalagi daerah lain. Saat saya berada disana saya melihat ada sebuah BTS Indosat yang megah bediri dan hasil searching signal melalu modem GSM saya mendapatkan signal yang mencengangkan saya yaitu 3G dan 2G, tapi sayang saya tidak menggunkan Indosat. Saya tidak bisa melakukan test koneksi, seandainya saya memili sim card indosat, pasti asyik bisa live blogging dari Pulo Aceh.

Untuk panorama alam dan kelebihan-kelibihan Pulo Aceh akan saya tulis dengan judul lain. so jangan lupa mengunjungi lagi blog ini (Iklan dikit). hahaha