Jam 14.00 WND boat yang aku tumpangi menghidupkan mesin pertanda akan segera berangkat menuju Pulo Aceh-Aceh Besar. Memang benar apa adanya sesaat setelah mesin dihidupkan awak boat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing yaitu menarik tali temali yang masih terlilit dibadan boat dan dermaga kayu yang sederhana. Tak sampai 10 menit boatpun perlahan mulai bergerak ditandai dengan suara gemuruh air dari baling-baling boat tepat berada dibawah tempat duduk aku.

Setelah melewati krung Aceh dan memasuki lautan gonjangan boat mulai terasa, aku sempat khawatir pada saat itu, takut terjadi apa-apa dengan boat yang kami tumpangi. Aku coba menenangkan diri dengan bertanya pada penumpang yang ada disamping “ini tidak seberapa dek, ini biasa saja, tidak usah khawatir, boat sekarang sedang melawan arus, nanti setelah jauh pasti akan kembali normal” begitu katanya. Walau sudah aku dapatkan informasi seperti itu aku masih saja merasa was-was dengan memegang erat-erat tiang yang ada disamping aku.

Perjalanan hampir 30 menit gonjangan boatpun sudah mulai mereda, aku merasa tenang dan sangat menikmati suasana laut lepas. Aku ambilkan pemutar mp3 dan kuhidupkan music favoritku walau sebenarnya tidak lagi favorit. Ha…ha

Dalam perjalan mengarungi laut lepas yang sungguh mengasikkan ini, aku sempat berbincang-bincang dengan penumpang lain tentang pulo yang pertama kali aku kunjungi, pembicaraan hangat dari penumpang boat mulai dari keadaan listrik yang katanya hanya menyala pada jam 6 sore dan akan kembali dimatikan pada jam 12 malam, ah…. Itu tak penting bagi aku, yang paling penting adalah apa aku bisa online dengan daya tahan batree laptop selama 2 jam. 2 jam online kawan sudah cukup bagi aku buat menulis blog ini dan share photo-photo di facebook. Tapi kawan ternyata di Pulo Aceh signal telkomsel sangat sulit ditemukan, kalaupun ada itu masih tersambung dengan BTS yang ada di Sabang, begitu informasi yang aku dapatkan, benar apa tidaknya akan aku buktikan nanti setelah sampai.

Tak terasa hampir dua jam mengarungi laut lepas, boat kembali terombang ambing oleh ombak yang besar dikarenakan arus berlawanan. Ternyata kami akan sampai beberapa saat lagi, boat mulai memasuki teluk pulo Aceh yang sunyi dan indah, air laut yang bersih, kawanan ikan yang sedang bersenda gurau sambil mecari makan, oh kawan sungguh indah pemandangan seperti ini.

Dermaga Kayu Pulo Aceh

Dermaga Kayu Pulo Aceh

Deru suara mesin boat tak terdengar lagi, penumpang satu persatu naik jetty yang terbuat dari kayu, aku sengaja tidak turun dulu untuk mengabadikan beberapa photo. Suasana jetty dari kayu yang sangat sederhana tidak nampak seperti sebuah pelabuhan penumpang, tidak ada loket karcis, tidak ada kamar mandi, tidak ada ruang tunggu, itulah sebuah pelabuhan penumpang sederhana buatan masyarakat Pulo Aceh. Kawan aku sempat bertanya-tanya pada diriku sendiri dimana aku harus beyar ongkos boatnya, sempat beberapa kali aku tanyakan dengan penumpang boat, mereka selalu menjawab Rp. 15.000,- padahal yang aku tanyakan bukan itu, aku bertanya dimana aku harus bayar. Sebelum turun aku sempatkan diri kembali bertanya pada salah satu penumpang masalah ongkos boat ini, tapi jawaban nya sama saja, tapi kali ini aku tak mau persoalan tak terjawab, maka aku jelaskan kembali maksud aku, bahwa bukan harga tiket yang aku maksud tapi dimana aku harus membayarnya, he…he sungguh simple ternyata kawan untuk membayar ongkos boat nya, tidak perlu ambil no antri dan tidak perlu berdesak-deskan, cukup turun dari kapan dan satu orang toke telah menunggu untuk memungut ongkos pada setiap penumpang yang turun.