Setelah  hampir empat tahun mengemban tugas pemulihan di Aceh pasca musibah gempa dan tsunami akhir desembar 2004 silam tugas Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias pada april ini aka berakhir. Dana yang dikucurkan oleh pemerintah pusat untuk membangun kembali Aceh sangat besar tapi sayang sekali masih banyak sekali hal-hal yang belum beres dilaksanakan oleh BRR sendiri sebagaimana tugas yang diberikan kepada lembaga tersebut. Tugas BRR memang tidaklah ringan, tapi dengan dana yang begitu besar dan sumber daya manusia yang melimpah maka tugas itu wajib dilaksanakan oleh BRR dengan penuh rasa tanggung jawab.

Tulisan ini sendiri timbul akibat dari kekecewaan saya ketika melihat beberapa hal yang dilakukan BRR yang terksean tidak bertanggung jawab dan kalau menuru pendapat saya memang tidak bertanggung jawab sama sekali (khusus dalam kasus ini). Salah satu contoh yaitu pembangunan rumah di desa Bitai Kecamatan Jaya Baru kota Banda Aceh.

Setelah setahun lebih menunggu rumah bantuan BRR yang diperuntukkan untuk korban tsunami yang belum mendapatkan rumah dari Palang Merah Turky akhirnya siap juga dikerjakan, namun alangkah disayangkan ada beberapa rumah yang dibangun asal jadi oleh BRR melalui kontraktor nya. Sebagai informasi desa Bitai termasuk daerah yang paling parah dilanda tsunami dengan tingkat kerusakan mencapai 99,99% dengan menyisakan hanya beberapa bangunan lantai 2 (kalau tidak salah cuma 3 bangunan) yang tidak utuh lagi.

Proses pembangunan rumah bantuan BRR di desa Bitai memang sangat berliku. Pada proses pelaksanaan nya terjadi beberapa pengalihan dari satu kontraktor ke kontraktor lain, namun demikian kami sebagai masyarakat seharusnya tidak harus memikirkan siapa yang menjadi kontraktor pelaksananya tapi kami cuma tahu bahwa rumah bantuan tersebut adalah dibangun oleh BRR dengan penuh rasa tanggung jawab, tapi apa lacur BRR sering kali berdalih kontraktor yang tidak becus melaksanakan pekerjaan nya. Hal itu menurut saya adalah urusan BRR bukan urusan kami penerima rumah bantuan karena BRR tentu punya aturan yang mengatur tentang itu semua. Nah disini bisa kita pastikan bahwa BRR mencoba untuk melepaskan tanggung jawabnya.

Sebagaimana kita ketahui setiap proyek yang dilaksanakan oleh BRR tentunya telah direncankan dengan matang, sebagai indikatornya nya adalah pada setiap proyek tentunya ada konsultan perencana dan pengawasnya. Nah apakah konsultan pengawas yang ditunjuk oleh BRR sudah bekerja dengan baik atau tidak, ini juga menjadi tanggung jawab BRR bukan tanggung jawab penerima manfaat. Saya menilai BRR mengabaikan tugas pengawasan ini pada proses pelaksanaan pembangunan rumah korban tsunami di desa Bitai khusunya, saya tidak tahu didaerah lain. Sebagai contoh pengawasan yang tidak berjalan sebagaimana mestinya bisa dilihat dari beberapa photo berikut ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari photo-photo diatas jelas terlihat rumah tersebut belumlah siap dibangun 100% kerana ada beberapa bagian yang belum siap, namun demikian rumah tersebut telah diserah terimakan dari kontraktor pelaksana ke BRR. Apakah BRR dengan team pengawas nya telah menjalankan fungsinya? Maka dari itu maka saya katakan BRR tidak bertanggung jawab.

Dalam pelaksanaan nya BRR berharap adanya partisipasi masyarakat untuk melaporkan setiap permasalahan dilapangan dalam setiap pelaksanaan proyek BRR, namun demikian sayang sungguh disayang sepertinya itikat baik dari masyarakat melaporkan kasus seperti diatas diabaikan oleh BRR. Saya sudah mengirimkan 2 email ke BRR melalu suara publik di website BRR, sekali saya mendapatkan respon walaupun tidak mendapatkan jawaban sebagaimana diharapkan. Bagaimana bisa puas dengan jawaban nya, saya telah mencantumkan alamat lengkap dari lokasi proyek BRR tersebut namun email yang saya terima malah menanyakan lokasi proyek nya (email ini di replay oleh elmida pada Thu, Sep 13, 2007 at 3:04 PM), apa staff BRR tidak membaca dulu isi emailnya baru menjawab, aneh memang. Pada keluhan ke dua yang saya sampaikan mengenai hal yang telah saya uraikan diatas sampai tulisan ini saya tulis (23/01/09) belum juga mendapatkan respon dari BRR padahal email tersebut telah saya kirim pada minggu kedua Janurai 2009 (saya lupa tanggal pastinya, berkisar antara 8/01/08-12/01/08). Huh… sunguh menyebalkan.