Berikut ini merupakan beberapa peusijuk yang lazim dilakukan dalam keseharian masyarakat Aceh. Tapi saat ini adat tersebut banyak yang tidak dilakukan lagi terutama diderah perkotaan seperti Banda Aceh.

1. Peusijuk Meulangga

Apabila terjadi perselisihan di antara penduduk. misalnya antara si A dan B ataupun antara penduduk gampong/desa A dengan penduduk gampong/desa B serta perselisihan ini mengakibatkan keluar darah, maka setelah diadakan perdamaian dilakukan peusijuk. Peusijuk ini sering disebut dengan peusijuk meulangga. Pada upacara ini juga sering diberikan uang, yang disebut sayam yang jumlahnya menurut kesepakatan. Apabila perselisihan terjadi seperti tersebut diatas, tetapi tidak mengeluarkan darah, misalnya perkelahian, perdamaian dan upacara peusijuk dilakukan juga tetapi tidak diberikan uang.

2. Peusijuk Pade Bijeh

Acara peusijuk pade bijeh ini dilakukan oleh petani terhadap padi yang akan dijadikan beni (bibit) sebelum penyemaian di sawah. Tujuan daripada peusijuk ini mengandung harapan agar bibit yang akan ditanam mendapat rahmat Allah SWT, subur dan mendapatkan hasil panen yang banyak.

3. Peusijuk Tempat Tinggai

Setiap orang yang mendiami rumah baru, kebiasaannya dilakukan acara peusijuk. Pelaksanaan oleh beberapa orang terdiri dari tiga, lima dan seterusnya dalam jumlah ganjil. Upacara ini dimaksudkan untuk mengambil berkah agar yang tinggal di tempat ini mendapat ridha Allah SWT, mudah rezeki dan selalu dalam keadaan sehat wal’afiat.

4. Peusijuk Peudeung Rumoh

Rumah adalah salah satu kebutuhan pokok munisia. Oleh karena itu, kegiatan membangun rumah selalu dipilih pada hari baik. Demikian juga dalam memilih bahan-bahan rumah yang dianggap baik. Selanjutnya membangun rumah atau sering disebut peudeung rumoh (mendirikan rumah) diawali dengan acara peusijuk. Yang dipeusijuk biasanya adalah tiang (tameh) raja, dan tameh putro serta tukang yang mengerjakan nya (utoh) agar diberkati oleh Allah SWT.

4. Peusijuk Keureubeun

Bagi orang Islam yang mampu sering memberikan kurban pada hari raya sesui dengan hukum agama. Seekor hewan kecil (kambing atau domba) cukup untuk korban bagi seorang, sedangkan tujuh secara bersama-sama memberi kor