Sudah dua hari belakangan ini kota Banda Aceh mengalami krisi air bersih yang disebabkan oleh mandetnya suplai dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Daroy. Hari kamis yang lalu saya sempat membaca pengumuman di salah satu koran lokal diamana mulai sabtu 8 November 2008 akan ada pemutusan suplai air ke beberapa kecamatan di Banda Aceh untuk waktu yang tidak ditentukan berhubung adanya perbaikan pipa.

Saya menanggapinya biasa-biasa saja dengan pengumuman tersebut kerana dibenak saya paling pemutusan nya palig lama 1 hari dan tidak sampai 24 jam, tapi apa lacur ternyata dugaan saya salah besar karena sudah dua hari air nya tidak juga mengalir. Saya coba cek ke teman-teman yang lain apa benar dirumahnya juga tidak ada air, ternyata jawaban nya sama. Saya juga mendapatkan beberap sms dari kawan menanyakan perihal air dengan bunyi yang rda-rada sama, “apa ada air dirumah, apa bisa numpang mandi”, he…he.

Yang membuat saya heran dalam kasus ini adalah pada pengumuman pemutusan suplay air ini, kerana didalam pengumuman tidak disebutkan sampai kapan selesainya perbaikan pipa air tersebut. Saya menilai disinilah letak tidak profisionalisme pihak PDAM dalam bekerja, seandainya saja pihak PDAM mengumumkan kapan selesainya perbaikan pipa, masyarakat umum seperti saya tentunya bisa mengatur rencana lain untuk mendapatkan air bersih.

Sungguh ironis memang ditengah begitu banyak bantuan asing diberikan ke PDAM dalam peningkatan mutu air bersih di kota Banda Aceh dan tentunya juga peningkatan SDM nya tapi hal-hal seperti ini bisa terjadi. Pak Walikota sudah selayak nya mempertimbangkan siapa yang seharus pantas meduduki jabatan Direktur PDAM.

PS : Ini hanyalah unek-unek masyarakat kecil, tanpa ada unsur kepentingan pihak lain kecuali kepentingan untuk mendapatkan suplay air bersih buat kehidupan sehari-hari.