Suatu kejadian perbedaan pendapat dengan rekan kerja yang terjadi telah membuat saya berfikir untuk dapat berintropeksi diri dari kesalahan, keangkuhan dan sedikit ego diri.
Terkadang kita sebagai manusia merasa kita yang paling benar, dan kita mungkin pernah meremehkan pendapat, atau saran dari orang lian. Kerap ketika kita mengedepankan keangkuhan pribadi dalam menerima pendapat dan kritik, dan kita meremehkan orang lain.


Sering juga kita mengabaikan hati nurani, dalam pengambilan keputusan, sebenarnya perbedaan pendapat adalah suatu anugrah yang patut disyukuri, karena dengan perbedaan pendapat kita bisa memiliki banyak pilihan keputusan, atau alternative penyelesaian masalah.

Sering kita sakit hati ketika ide atau gagasan kita tidak diterima oleh sahabat, rekan kerja, rekan bisnis, keluarga, dan suatu hubungan interaksi sosial lainnya. Coba kita berfikir positif jika pendapat kita belum dipakai, mungkin pendapat orang lain lebih tepat untuk meyelesaikan permasalahan.

Dengan kita bisa menerima pendapat atau pandangan orang lain, dan tidak memaksakan kehendak, adalah cermin dari kedewasaan, kebijaksanaan dari seseorang. Sesorang yang sudah berpribadi matang, cenderung akan menghargai pendapat orang lain, dan orang yang belum dewasa akan cenderung memaksakan kekuatanya.

Jadi kenapa tidak kita bergabung bersama untuk mendapat ide yang lebih baik, atau menghargai ide orang lain saat ide kita tidak diterima. Tetapi kita juga janganlah congkak ketika ide kita diterima. Mari kita saling menghargai perbedaan pendapat diantara kita. Karena manusia terdiri dari banyak pemikiran. Dan mari kita buat perbedaan menjadi hal yang menyatukan.

Adakalanya kita harus mengalah untuk menang, dan juga kita memang harus benar-benar mengalah untuk kebaikan bersama tapi disuatu saat kita memang harus mengalah untuk kalah karena memang kita hanyalah manusia yang tidak sempurna

Bersifat lapang dada saat ide kita tidak diterima adalah sebuah proses kematangan diri
Menghargai perbedaan pendapat adalah sangat bijaksana