Di perempatan Slipi, bocah-bocah tetap kelayapan hingga larut malam. Mereka tak peduli dengan sekolah karena mereka memang tak mampu menikmati pendidikan dasar sekalipun. Yang mereka tahu hanyalah berapa uang yang diperoleh hari ini dari mengemis di persimpangan jalan yang ramai di sudut metropolitan Jakarta.

Siapa pula peduli dengan ayah atau ibu? Mungkin orang yang membawanya selama ini dianggap sebagai sang ibu. Tapi siapa peduli? Bukankah hidup hari ini untuk hari ini dan besok bagaimana nanti?

Di perempatan Slipi, sebuah sedan BMW berhenti saat lampu merah. Bocah-bocah meraba kaca. Tapi pengemudi dan penumpang sedan mewah itu tak bergeming. Mungkin juga enggan berurusan dengan polisi pamong praja yang bakal mendendanya jika memberi uang kepada bocah-bocah itu. Penumpang sedan itu cuma mendongakkan kepalanya, lalu membaca lagi koran pagi, yang sudah dibacanya berulang kali. Waw, Soeharto Buron PBB Nomor Satu. Adsa juga berita lainnya soal kasus korupsi Asabri yang melibatkan pensiunan jenderal-jenderal. Dia tak tahu apakah dia giliranberikutnya yang bakal diusut.

Bocah-bocah pengemis jalanan tidak tahu mengapa mereka setiap hari harus mengemis di perempatan jalan, dan bukannya bermain-main di sekolah seperti anak sepantaran mereka. Bocah-bocah itu tidak tahu mengapa kemiskinan struktural terus menjerat mereka. Mungkin sang kakek juga dulu pengemis, sang ayah dan sang ibu juga pengemis. Yang mereka paham, setiap pagi sudah harus tiba di perempatan jalan hingga larut malam.

Selembar koran pagi masih tersisa di jalan. Judulnya Soeharto Buron PBB Nomor Satu, Masuk dalam Daftar Pemimpin yang Mencuri Aset Negara. Dalam berita itu disebutkan ternyata jumlah uang yang dicuri Soeharto dalam kurun waktu 1967-1998 antara 15 miliar dan 35 miliar dollar Amerika Serikat. Di urutan kedua, Ferdinand Marcos, mantan Presiden Filipina (1972-1986), yang mencuri uang 5 miliar sampai 10 miliar dollar AS. Urutan ketiga, Mobutu Sese Seko (1965-1997), mantan Presiden Zaire, yang mencuri 5 miliar dollar AS. Keempat, Sani Abacha (1993-1998) dari Nigeria yang mencuri 2 miliar sampai 5 miliar dollar AS,m dan kelima, Slobodan Mliosevic (1989-2000) asal Serbia/Yugo yang mencuri 1 miliar dollar AS.

“Banyak negara berkembang sangat membutuhkan biaya untuk memerangi kemiskinan. Pada saat yang sama, uang hasil korupsi yang mengalir dari negara-negara berkembang diperkirakan mencapai USD 40 miliar setahunnya. Jumlah itu kira-kira 40 persen dari dana pembangunan,” kata Presiden Bank Dunia Robert Zoellick seperti dikutip suratkabar Indopos terbitan Rabu.

Bocah-bocah yang terjerat kemiskinan itu pasti tidak membaca berita soal Soeharto itu karena memang belum sempat belajar membaca di sekolah. Wajah-wajah mereka masih menyiratkan mata yang kosong tanpa harapan. Setelah tumbuh jadi remaja, akan jadi apakah mereka kelak? Pengguna narkoba? Kriminal? Kalau beruntung, mereka bisa menjadi pedagang kaki lima. Mereka hanya bergumam, kemana gerangan kekayaan Indonesia selama ini? Mengapa sudah 62 tahun merdeka, tetap harus mengemis di jalanan, tetap digusur tramtib atas nama ketertiban umum? Ah, Jakarta bukan untuk rakyat kecil yang terpinggirkan seperti mereka.

Sementara wakil rakyat sibuk berdiskusi siapa calon presiden 2009 mendatang, di hotel-hotel bintang lima sambil meneguk wine dan mengisap cerutu. Entahlah, apakah mereka juga memikirkan bagaimana kemiskinan yang masih menghadang di depan mata, kemiskinan dan pengangguran di kampung kumuh di belakang hotel bintang lima tempat mereka berdiskusi itu, dapat diatasi. Mungkin juga tak peduli. Sementara di sisi lain, dua lembaga negara, BPK berseteru dengan Mahkamah Agung.

Dan bocah-bocah di perempatan Slipi sudah mengantuk. Esok pagi-pagi, sudah harus berdiri lagi di persimpangan jalan itu. Siapa yang peduli dengan mereka jika pejabat negara dan wakil rakyat hanya sibuk sendiri?