Wagub sekaligus ketua panitia PKA 5

Wagub Aceh sekaligus ketua panitia PKA 5 bersalaman dengan Bupati Aceh Tengah pada malam penutupan PKA 5

Peukan Keubayaan Aceh (PKA) 5 yang merupakan hajatan budaya 4 tahunan di negeri yang menerapkan hukum  Syariah konon katanya menghabiskan dana miliaran rupiah ini menyedot pengunjung ratusan ribu setiap harinya. Sejatinya sebuah even budaya skala internasional menampilkan secara keseluruhan budaya Aceh baik permainan rakyat atau tarian-tarian dan lainya.

Berbarengan dengan PKA 5 yang juga diadakan pameran yang menurut panitia pelaksana berskala internasional juga dengan tema “Aceh International Expo” ini ditempat berbeda namun berdekatan. Even ini menyedot perhatian hampir seluruh masyarakat Aceh ditambah lagi publikasi media yang sangat kentara saban hari pada media lokal.

Penyelenggaraan PKA tentulah dimaksudkan sebagai upaya melestarikan kekayaan budaya Aceh dan menjadikannya spirit berperi-kehidupan dalam suatu hubungan universal umat manusia. Orisinalitas kultur keAcehan diakui mengandung sifat humanisme dan bermuara pada maujud sosial yang amat dinamis. Itulah akar kekuatan Aceh sehingga pada ruang dan waktu manapun ia memiliki eksistensi sosial amat kuat dalam rasionalitas egalitarian.

Penjuala VCD/DVD Bajakan ikut meramaikan arena PKA 5

Penjuala VCD/DVD Bajakan ikut meramaikan arena PKA 5

Namun sayang arena PKA yang dibangun pada saat Abdullah Puteh memimpin Aceh itu dengan dana yang dialihkan dari pos pendidikan APBD Aceh atau lebih dikenal dengan nama Taman Ratus Safiatuddin ini terlihat seperti layaknya pasar malam. Hal ini menjadi pembicaraan hangat dikalangan pengguna facebook yang saban hari ada saja yang memposting status tentang centang perenangnya arena PKA.

Hal ini tentunya ada sebab musababnya kenapa sebagian orang mencibiri PKA 5, salah satu faktornya adalah begitu banyaknya penjual kaki lima, sehingga arena yang seharusnya dipertontonkan budaya keAcehan ini dipenuhi oleh para pedagang kaki lima. Pedangang kaki lima yang menggelar lapak jualan di sepanjang jalan arena PKA membuat arus pejalan kaki menjadi terganggu.

Banyaknya penjual kaki lima membuat arena PKA serasa pasar malam. Salah seorang aktivis muda Aceh pernah mengatakan inilah cermin budaya orang Aceh sebenarnya yang konon katanya adalah kaum pedagang. Ada benarnya argumen ini kalau kita lihat dari rata-rata pedagang kaki lima di arena PKA  adalah orang Aceh namun tak dipungkiri banyak juga pedagang dari luar Aceh namun dominasinya tetap orang Aceh.

Naluri pedagang adalah dimana ada keramaian maka disitulah mereka bisa mendapat keuntungan, seperti kata pepatah “dimana ada gula disitu ada semut”, berlaku juga di arena PKA 5. Jumlah pedagang kaki lima yang begitu banyak dengan harapan mereka tentunya berharap keuntunagan yang lebih dari orang-orang yang mengunjungi PKA 5. Harga sebuah lapak jualan yang mencapai sepuluh juta rupiah membuat harga-harga meroket. Hal ini kita tidak dapat mempersalahkan para penjual. Siapa yang salah disini, mungkin tak ada yang salah, karena ini adalah hukum alam yang kata orang-orang sudah dari sana nya.

Pelajaran dari PKA 5

Papan pengumuman dedapan anjungan Aceh Selatan yang menyatakan Aceh Selatan memboikot PKA 5

Papan pengumuman dedapan anjungan Aceh Selatan yang menyatakan Aceh Selatan memboikot PKA 5

PKA 6 akan dilaksanakan 4 tahun kedepan, namun ada banyak hal yang bisa kita belajar dari pelaksanaan PKA 5 ini, salah satunya adalah hengkangnya salah satu kabupaten juara umum pada PKA 4, empat tahun silam. Kabupaten Aceh Selatan yang menyabet juara umum pada PKA 4 lalu  menyatakan Walk Out sehari setelah PKA 5 secara resmi dibuka oleh presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Walk Out nya Aceh Selatan dari arena PKA 5 gara-gara kesalahan protekoler dari pihak penitia.

Kedepan hal-hal seperti kita berharap tidak terulang lagi, karena sekecil apapun kesalahan yang dilakukan yang menyebakan salah satu peserta yang konon membawa rombongan lebih 600 orang peserta ini bisa dijadikan pelajaran berharga oleh panitia pelaksana.

Banyaknya pedagang kaki lima dan kurangnya promosi keluar negeri juga menjadi kekurangan dari pelaksanaan PKA 5 ini. Kita semua berharap PKA bisa mendatangkan banyak wisatawan ke Aceh baik domestik atau wisatawan internasional. Website PKA juga terasa sangat hambar akan informasinya dan hanya memiliki satu bahasa. Padahal website merupakan media promosi yang murah namun efektif untuk menggait wisatawan luar negeri untuk datang ke PKA 5.

Antusiusme pengunjung pada malam penutupan PKA 5

Antusiusme pengunjung pada malam penutupan PKA 5

PKA 5 telahpun usai dengan hasil yang bagus tanpa ada insiden-insiden yang bagitu berarti sehingga terhambatnya pelaksanaan PKA 5 itu sendiri, hal ini kita patut kita bersyukur. Tak ada yang salah dan perlu dipersalahkan apabila ada kekurangan disana sini pada pelaksanaan PKA 5 ini, namun mari kita ambil himah dan belajar untuk lebih baik pada PKA 6 empat tahun akan datang, selamat tinggal PKA 5.

Catatan:

Penulis hanya mengunjungi PKA pada malam terakhir dan pada jam-jama dimana PKA 5 akan ditutup secara resmi. Namun tulisan ini lebih berdasarkan penuturan dari teman-teman penulis yang sudah beberapa kali mengunjingi arena PKA 5.

Penulis tidak pernah mengunjugi anjungan kabupaten/kota yang menjadi daya tarik utama pada PKA. Ada beberapa permainan rakyat yang diperlombakan pada PKA 5 seperti permainan galah, namun permainan rakyat ini dipusatkan di Lapangan Tugu Darussalam yang terletak di Komplek Mahasiswa (kopelma) Darussalam kampus Unsyiah Banda Aceh.

About these ads